Sabtu, 13 April 2013
Serasa dan Serasi
Tidak karena kamu memiliki semua pesona itu sekaligus, maka kamu bisa mencintai dan mengawini semua perempuan. Begitu juga sebaliknya. Pesona fisik, jiwa, akal, dan ruh, diperlukan untuk menciptakan daya tarik dan daya rekat yang permanent bila kita ingin membangun sebuah hubungan jangka panjang. Tapi seperti berlian, tidak semua orang mengenalnya dengan baik, maka mereka tidak menghargainya. Atau mungkin mereka mengenalnya, tapi terasa terlalu jauh untuk dijangkau, seperti mimpi memetik bintang atau mimpi memeluk gunung. Atau mungkin ia mengenalnya, tapi terasa terlalu mewah untuk sebuah kelas sosial, atau kurang serasi untuk sebuah suasana.
Kira-kira itulah yang membuat Aisyah Radhiyallahu`anha sekali ini benar-benar gundah. Orang terbaik dimuka bumi ketika itu, Amirul Mu'minin, Khalifah kedua, Umar bin Khattab, hendak melamar adiknya, Ummu Kaltsum. Tidak ada alasan untuk menolak lamaran beliau kecuali bahwa Abu Bakar, sang Ayah, yang juga Khalifah Pertama, telah mendidik puteri-puterinya dengan penuh kasih sayang dan kemanjaan. Aisyah karena itu, percaya bahwa adiknya tidak akan kuat beradaptasi dengan pembawaan Umar yang kuat
dan kasar. Bahkan ketika Abu Bakar meminta pendapat Abdurrahman bin Auf tentang kemungkinan penunjukkan Umar bin Khattab sebagai khalifah, beliau menjawab : "Dia yang paling layak, kecuali bahwa dia kasar."
Dengan sedikit bersiasat, Aisyah meminta bantuan Amru bin `Ash untuk "menggiring" Umar agar menikahi Ummu Kaltsum yang lain, yaitu Ummu Kaltsum binti Ali bin Abi Thalib yang ketika itu berumur 11 tahun. Karena garis jiwa, akal dan ruh mereka lebih setara dan karena itu mereka akan tampak lebih serasi karena bisa serasa. Berbekal pengalaman sebagai diplomat ulung, pesan itu memang sampai kepada Umar. Akhirnya Umar menikahi Ummu Kultsum bin Ali bin Abi Thalib.Kesetaraan dan keserasian. Itu yang lebih menentukan daripada sekedar pesona an sich. Ibnu Hazem menjelaskan, kalau ada lelaki tampan menikahi perempuan jelek, atau sebaliknya, itu bukan sebuah keajaiban. Yang ajaib adalah kalau seorang lelaki meninggalkan kekasih yang cantik dan memilih kekasih baru yang jelek. "Saya tidak bisa memahaminya. Tapi memang tidak harus dijelaskan."
Ibnu Hazem, imam terbesar pada mazhab Zhahiryah, yang menulis puluhan buku legendaries dalam fiqh, hadist, sejarah, sastra, puisi dan lainnya, lelaki tampan yang lembut dan seorang pecinta sejati, putera seorang menteri di Cordova, suatu ketika harus menelan luka: cintanya ditolak oleh seorang perempuan yang justru bekerja dirumahnya. Ibnu Hazem bahkan mengejar-ngejarnya dan melakukan semua yang bisa ia lakukan untuk mendapatkan cintanya. Tapi tetap saja ditolak.
"Saya teringat, kadang-kadang saya masuk melalui pintu rumahku dimana gadis itu ada disana, untuk berdekat-dekat dengannya. Tapi begitu ia tahu aku mendekat ia segera menjauh dengan sopan dan tenang. Jika ia memilih pintu lain, maka aku akan kesana juga tapi dia akan pindah lagi ketempat lain. Dia tahu aku sangat mencintainya walaupun perempuan-perempuan tidak tahu hal itu karena jumlah mereka sangat banyak di istanaku."
Begitulah lelaki yang memiliki semua pesona itu ditolak. Bahkan ketika suatu saat Ibnu Hazem menyaksikan gadis itu menyanyi di istananya, Ibnu Hazem benar-benar terpesona dan makin mencintainya. Tapi ia hanya berkata dengan lirih: "Oh, nanyian itu seakan turun kehatiku, dan hari itu tidak akan pernah kulupakan sampai hari ketika berpisah dengan dunia." Oh, lelaki baik yang terluka oleh hukuman keserasaan dan keserasian.
Oleh: Anis Matta, Lc
Sumber: Majalah Tarbawi
Jumat, 12 April 2013
Sosok Asing Wali Ashif bin Barkhiya
Nabi Sulaiman berhasrat akan menunjukkan kepada Ratu Balqis bahawa ia memiliki kekuasaan ghaib di samping kekuasaan lahirnya dan bahwa apa yang dia telah ancamkan melalui rombongan perutusan bukanlah ancaman yang kosong. Maka bertanyalah beliau kepada pasukan Jinnya, siapakah diantara mereka yang sanggup mendatangkan tahta Ratu Balqis sebelum orangnya datang berserah diri.
Ifrit dari golongan Jin berkata ?Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya. Ucapan Ifrit itu ditimpali oleh Sang Wali yang mempunyai ilmu dari al-Kitab, "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip!"
Nabi Sulaiman berkedip dan singgasana Ratu Balqis sudah berada dihadapannya. berkatalah ia: ?Ini adalah salah satu kurnia Tuhan kepadaku untuk mencuba apakah aku bersyukur atas kurnia-Nya itu atau mengingkari-Nya, kerana barang siapa bersyukur maka itu adalah semata-mata untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa mengingkari nikmat dan kurnia Allah, ia akan rugi di dunia dan di akhirat dan sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Mulia."
Nabi Sulaiman berkedip dan singgasana Ratu Balqis sudah berada dihadapannya. berkatalah ia: ?Ini adalah salah satu kurnia Tuhan kepadaku untuk mencuba apakah aku bersyukur atas kurnia-Nya itu atau mengingkari-Nya, kerana barang siapa bersyukur maka itu adalah semata-mata untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa mengingkari nikmat dan kurnia Allah, ia akan rugi di dunia dan di akhirat dan sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Mulia."
Lalu siapa dia yang disifatkan al-Qur'an dengan "seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab".
Lalu siapa dia yang disifatkan al-Qur'an dengan "seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab".
Nama Wali Ashif memang tidak terdapat dalam Qur'an, namun sosok wali tersebut tersirat dalam kisah kehidupan Nabi Sulaiman. Konon, sejumlah sufi mengenal beliau bahkan mengamalkan wiridan yang diamalkan Wali Ashif. Sosok wali yang nama lengkapnya Ashif bin Barkhiya ini adalah murid Nabi Sulaiman AS. Dialah Wali sakti yang telah memindahkan singgasana Ratu Balqis dengan singkat mengalahkan kecepatan dan kemampuan Jin Ifrit.
Nama Wali Ashif memang tidak terdapat dalam Qur'an, namun sosok wali tersebut tersirat dalam kisah kehidupan Nabi Sulaiman. Konon, sejumlah sufi mengenal beliau bahkan mengamalkan wiridan yang diamalkan Wali Ashif. Sosok wali yang nama lengkapnya Ashif bin Barkhiya ini adalah murid Nabi Sulaiman AS. Dialah Wali sakti yang telah memindahkan singgasana Ratu Balqis dengan singkat mengalahkan kecepatan dan kemampuan Jin Ifrit.
Inilah contoh nyata dan tak terbantahkan dari Al-Quran mengenai kebenaran akan kemampuan orang-orang yang mempunyai ?kesaktian? karena ikhlas beribadah kepada Allah. Sayang, kita tidak mau mendalami al-Kitab yang Allah turunkan kepada kita sebagai "petunjuk bagi orang yang bertakwa". Kita lebih suka bermain-main dengan jin. Kita lebih suka meminta tolong kepada jin.
Inilah contoh nyata dan tak terbantahkan dari Al-Quran mengenai kebenaran akan kemampuan orang-orang yang mempunyai ?kesaktian? karena ikhlas beribadah kepada Allah. Sayang, kita tidak mau mendalami al-Kitab yang Allah turunkan kepada kita sebagai "petunjuk bagi orang yang bertakwa". Kita lebih suka bermain-main dengan jin. Kita lebih suka meminta tolong kepada jin.
Ah...betapa jauh kita dari tuntunan Allah. Kisah Wali Ashif seharusnya menyadarkan kita bahwa kalau kita mau mendalami kitab suci, maka derajat kita akan naik dan kita sama sekali tak butuh pada bantuan jin. (Wahai Tuhan kami, Tuhan segala sesuatu, Tuhan yang satu, Tidak ada tuhan kecuali Engkau)
Ah...betapa jauh kita dari tuntunan Allah. Kisah Wali Ashif seharusnya menyadarkan kita bahwa kalau kita mau mendalami kitab suci, maka derajat kita akan naik dan kita sama sekali tak butuh pada bantuan jin. (Wahai Tuhan kami, Tuhan segala sesuatu, Tuhan yang satu, Tidak ada tuhan kecuali Engkau)
Ifrit dari golongan Jin berkata ?Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu. Sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya. Ucapan Ifrit itu ditimpali oleh Sang Wali yang mempunyai ilmu dari al-Kitab, "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip!"
Nabi Sulaiman berkedip dan singgasana Ratu Balqis sudah berada dihadapannya. berkatalah ia: ?Ini adalah salah satu kurnia Tuhan kepadaku untuk mencuba apakah aku bersyukur atas kurnia-Nya itu atau mengingkari-Nya, kerana barang siapa bersyukur maka itu adalah semata-mata untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa mengingkari nikmat dan kurnia Allah, ia akan rugi di dunia dan di akhirat dan sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Mulia."
Nabi Sulaiman berkedip dan singgasana Ratu Balqis sudah berada dihadapannya. berkatalah ia: ?Ini adalah salah satu kurnia Tuhan kepadaku untuk mencuba apakah aku bersyukur atas kurnia-Nya itu atau mengingkari-Nya, kerana barang siapa bersyukur maka itu adalah semata-mata untuk kebaikan dirinya sendiri dan barangsiapa mengingkari nikmat dan kurnia Allah, ia akan rugi di dunia dan di akhirat dan sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Mulia."
Lalu siapa dia yang disifatkan al-Qur'an dengan "seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab".
Lalu siapa dia yang disifatkan al-Qur'an dengan "seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab".
Nama Wali Ashif memang tidak terdapat dalam Qur'an, namun sosok wali tersebut tersirat dalam kisah kehidupan Nabi Sulaiman. Konon, sejumlah sufi mengenal beliau bahkan mengamalkan wiridan yang diamalkan Wali Ashif. Sosok wali yang nama lengkapnya Ashif bin Barkhiya ini adalah murid Nabi Sulaiman AS. Dialah Wali sakti yang telah memindahkan singgasana Ratu Balqis dengan singkat mengalahkan kecepatan dan kemampuan Jin Ifrit.
Nama Wali Ashif memang tidak terdapat dalam Qur'an, namun sosok wali tersebut tersirat dalam kisah kehidupan Nabi Sulaiman. Konon, sejumlah sufi mengenal beliau bahkan mengamalkan wiridan yang diamalkan Wali Ashif. Sosok wali yang nama lengkapnya Ashif bin Barkhiya ini adalah murid Nabi Sulaiman AS. Dialah Wali sakti yang telah memindahkan singgasana Ratu Balqis dengan singkat mengalahkan kecepatan dan kemampuan Jin Ifrit.
Inilah contoh nyata dan tak terbantahkan dari Al-Quran mengenai kebenaran akan kemampuan orang-orang yang mempunyai ?kesaktian? karena ikhlas beribadah kepada Allah. Sayang, kita tidak mau mendalami al-Kitab yang Allah turunkan kepada kita sebagai "petunjuk bagi orang yang bertakwa". Kita lebih suka bermain-main dengan jin. Kita lebih suka meminta tolong kepada jin.
Inilah contoh nyata dan tak terbantahkan dari Al-Quran mengenai kebenaran akan kemampuan orang-orang yang mempunyai ?kesaktian? karena ikhlas beribadah kepada Allah. Sayang, kita tidak mau mendalami al-Kitab yang Allah turunkan kepada kita sebagai "petunjuk bagi orang yang bertakwa". Kita lebih suka bermain-main dengan jin. Kita lebih suka meminta tolong kepada jin.
Ah...betapa jauh kita dari tuntunan Allah. Kisah Wali Ashif seharusnya menyadarkan kita bahwa kalau kita mau mendalami kitab suci, maka derajat kita akan naik dan kita sama sekali tak butuh pada bantuan jin. (Wahai Tuhan kami, Tuhan segala sesuatu, Tuhan yang satu, Tidak ada tuhan kecuali Engkau)
Ah...betapa jauh kita dari tuntunan Allah. Kisah Wali Ashif seharusnya menyadarkan kita bahwa kalau kita mau mendalami kitab suci, maka derajat kita akan naik dan kita sama sekali tak butuh pada bantuan jin. (Wahai Tuhan kami, Tuhan segala sesuatu, Tuhan yang satu, Tidak ada tuhan kecuali Engkau)
Sepiring Nasi
Pada hari itu, Fani dinasehati ibunya, karena sangat emosional,
Fani pergi meninggalkan rumah, mengikuti hati yang emosi, tak terasa langkah
kakinya telah jauh meninggalkan rumah kampung halamannya, padahal ia tak
membawa apa pun.
Entah ini telah sampai daerah mana ia
tidak tau. Yang jelas, telah jauh dari tempat tinggalnya. Haus—dahaga mulai
terasa, lapar mulai menggelitik perutnya yang buncit. Namun ia tetap
melangkahkan kakinya satu langkah demi satu langkah walaupun terasa beratnya,
perjalanan mulai membosankan dan melelahkan, berhentilah di suatu jalan, ia
baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa bekal apapun, apalagi membawa
uang. Kelelahan mulai terasa, ingin rasanya istirahat walau sejenak. Akhirnya
ia berhenti sejenak di dekat rumah makan, ia mencium harumnya aroma masakan. Ia
ingin sekali memesan sepiring nasi, tetapi ia tidak mempunyai uang. Ia tidak
mungkin akan meminta-minta, mulutnya yang mungil tak kuasa untuk mengatakan
”minta sepiring nasi”, tak mungkin itu ia lakukan.
Pemilik Rumah Makan melihat Fani
berdiri cukup lama di depan etalasenya, lalau bertanya, “Nona, apakah kau ingin
sepiring nasi?” “Tetapi, aku tidak membawa uang,” jawab Fani dengan malu-malu.
“Tidak apa-apa, aku akan memberimu
sepiring nasi,” jawab pemilik Rumah Makan. “Silahkan duduk, aku akan
menghidangkannya untukmu.”
Tidak lama kemudian, pemilik Rumah
Makan itu mengantarkan sepiring nasi dengan lauk pauknya. Fani segera makan
dengan nikmatnya dan kemudian air matanya mulai berlinang. “Ada apa
Nona?” tanya pemilik Rumah Ma-kan.
“Tidak apa-apa. Aku hanya terharu,”
jawab Fani sambil mengeringkan air matanya.
“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun
memberiku sepiring nasi! Tapi,…. Ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku,
mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah.
Bapak seorang yang baru kukenal,
tetapi begitu peduli denganku diban-dingkan dengan ibu kandungku sendiri,”
katanya kepada si pemilik Rumah Makan.
Pemilik Rumah Makan itu setelah
mendengar perkataan Fani, menarik napas panjang, dan berkata, “Nona, mengapa
kau berpikir seperti itu?.
Renungkanlah hal ini, aku hanya
memberimu sepiring nasi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak
makanan untukmu saat kau masih kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak
berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya.”
Fani terhenyak mendengar hal tersebut.
“Mengapa aku tidak berpikir tentang hal tersebut? Untuk sepiring nasi dari
orang yang baru kukenal aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yang
telah memasak makanan untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak
memperlihakan kepe-dulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku
bertengkar dengannya.”
Fani menghabiskan nasinya dengan
cepat. Lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Sambil
berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkannya kepada
ibunya. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengatakan, “Ibu,maafkan aku, aku tahu
bahwa aku bersalah.”
Begitu sampai di depan pintu, ia
melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas, karena telah mencarinya ke semua
tempat. Ketika ibunya melihat Fani, kalimat pertama yang keluar dari mulut
ibunya, “Fani, cepat masuk, ibu telah menyiapkan makan malam untukmu dan
makanan itu akan menjadi dingin jika kau tidak segera mamakannya.”
Fani sangat terharu melihat kasih
ibunya yang begitu besar kepadanya, ia tidak dapat menahan air matanya dan ia
menangis di hadapan ibunya.
Sekali waktu, mungkin kita akan sangat
berterima kasih kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil
yang diberikannya kepada kita. Tetapi, kepada orang yang sangat dekat dengan
kita, khususnya orang tua kita, pernahkah kita berpikir untuk berterima kasih
kepada mereka yang telah merawat, membesarkan, mendidik dan
melimpahkan kasih sayangnya kepada kita???
Pada hari itu, Fani dinasehati ibunya, karena sangat
emosional, Fani pergi meninggalkan rumah, mengikuti hati yang emosi, tak terasa
langkah kakinya telah jauh meninggalkan rumah kampung halamannya, padahal ia
tak membawa apa pun.
Entah ini telah sampai daerah mana ia tidak tau. Yang
jelas, telah jauh dari tempat tinggalnya. Haus—dahaga mulai terasa, lapar mulai
menggelitik perutnya yang buncit. Namun ia tetap melangkahkan kakinya satu
langkah demi satu langkah walaupun terasa beratnya, perjalanan mulai membosankan
dan melelahkan, berhentilah di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama
sekali tidak membawa bekal apapun, apalagi membawa uang. Kelelahan mulai
terasa, ingin rasanya istirahat walau sejenak. Akhirnya ia berhenti sejenak di
dekat rumah makan, ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan
sepiring nasi, tetapi ia tidak mempunyai uang. Ia tidak mungkin akan
meminta-minta, mulutnya yang mungil tak kuasa untuk mengatakan ”minta sepiring
nasi”, tak mungkin itu ia lakukan.
Pemilik Rumah Makan melihat Fani berdiri cukup lama di
depan etalasenya, lalau bertanya, “Nona, apakah kau ingin sepiring nasi?”
“Tetapi, aku tidak membawa uang,” jawab Fani dengan malu-malu.
“Tidak apa-apa, aku akan memberimu sepiring nasi,”
jawab pemilik Rumah Makan. “Silahkan duduk, aku akan menghidangkannya untukmu.”
Tidak lama kemudian, pemilik Rumah Makan itu
mengantarkan sepiring nasi dengan lauk pauknya. Fani segera makan dengan
nikmatnya dan kemudian air matanya mulai berlinang. “Ada apa Nona?” tanya pemilik Rumah
Ma-kan.
“Tidak apa-apa. Aku hanya terharu,” jawab Fani sambil
mengeringkan air matanya.
“Bahkan, seorang yang baru kukenal pun memberiku
sepiring nasi! Tapi,…. Ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku
dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah.
Bapak seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli
denganku diban-dingkan dengan ibu kandungku sendiri,” katanya kepada si pemilik
Rumah Makan.
Pemilik Rumah Makan itu setelah mendengar perkataan
Fani, menarik napas panjang, dan berkata, “Nona, mengapa kau berpikir seperti
itu?.
Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu sepiring
nasi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak makanan untukmu
saat kau masih kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih
kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya.”
Fani terhenyak mendengar hal tersebut. “Mengapa aku
tidak berpikir tentang hal tersebut? Untuk sepiring nasi dari orang yang baru
kukenal aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yang telah memasak
makanan untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihakan
kepe-dulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar
dengannya.”
Fani menghabiskan nasinya dengan cepat. Lalu ia
menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Sambil berjalan ke rumah, ia
memikirkan kata-kata yang harus diucapkannya kepada ibunya. Akhirnya, ia
memutuskan untuk mengatakan, “Ibu,maafkan aku, aku tahu bahwa aku bersalah.”
Begitu sampai di depan pintu, ia melihat ibunya dengan
wajah letih dan cemas, karena telah mencarinya ke semua tempat. Ketika ibunya
melihat Fani, kalimat pertama yang keluar dari mulut ibunya, “Fani, cepat
masuk, ibu telah menyiapkan makan malam untukmu dan makanan itu akan menjadi
dingin jika kau tidak segera mamakannya.”
Fani sangat terharu melihat kasih ibunya yang begitu
besar kepadanya, ia tidak dapat menahan air matanya dan ia menangis di hadapan
ibunya.
Sekali waktu, mungkin kita akan sangat berterima kasih
kepada orang lain di sekitar kita untuk suatu pertolongan kecil yang diberikannya
kepada kita. Tetapi, kepada orang yang sangat dekat dengan kita, khususnya
orang tua kita, pernahkah kita berpikir untuk berterima kasih kepada mereka
yang telah merawat, membesarkan, mendidik dan melimpahkan kasih sayangnya
kepada kita???
Sepatu Pak Tua
Seorang bapak tua pada suatu hari hendak bepergian naik bus kota. Saat menginjakkan kakinya ke tangga, salah satu sepatunya terlepas dan jatuh ke jalan. Sayang, pintu tertutup dan bus segera berlari cepat. Bus ini hanya akan berhenti di halte berikutnya yang jaraknya cukup jauh sehingga ia tak dapat memungut sepatu yang terlepas tadi.Melihat kenyataan itu, si bapak tua itu dengan tenang melepas sepatunya yang sebelah dan melemparkannya ke luar jendela.
Seorang pemuda yang duduk dalam bus tercengang, dan bertanya pada si bapak tua, ”Mengapa bapak melemparkan sepatu bapak yang sebelah juga?” Bapak tua itu menjawab dengan tenang, ”Supaya siapa pun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.” Bapak tua dalam cerita di atas adalah contoh orang yang bebas dan merdeka. Ia telah berhasil melepaskan keterikatannya pada benda. Ia berbeda dengan kebanyakan orang yang mempertahankan sesuatu semata-mata karena ingin memilikinya, atau karena tidak ingin orang lain memilikinya.
Sikap mempertahankan sesuatu — termasuk mempertahankan apa yang sudah tak bermanfaat lagi — adalah akar dari ketamakan. Penyebab tamak adalah kecintaan yang berlebihan pada harta benda. Kecintaan ini melahirkan keterikatan. Kalau Anda sudah terikat dengan sesuatu, Anda akan mengidentifikasikan diri Anda dengan sesuatu itu. Anda bahkan dapat menyamakan kebahagiaan Anda dengan memiliki benda tersebut. Kalau demikian, Anda pasti sulit memberikan apapun yang Anda miliki karena hal itu bisa berarti kehilangan sebagian kebahagiaan Anda.
Kalau kita pikirkan lebih dalam lagi ketamakan sebenarnya berasal dari pikiran dan paradigma kita yang salah terhadap harta benda. Kita sering menganggap harta kita sebagai milik kita. Pikiran ini salah.
Harta kita bukanlah milik kita. Ia hanyalah titipan dan amanah yang suatu ketika harus dipertanggungjawabkan. Pertanggungjawaban kita adalah sejauh mana kita bisa menjaga dan memanfaatkannya.Peran kita dalam hidup ini hanyalah menjadi media dan perantara. Semuanya adalah milik Tuhan dan suatu ketika akan kembali kepadaNya.Tuhan telah menitipkan banyak hal kepada kita: harta benda, kekayaan, pasangan hidup, anak-anak, dan sebagainya. Tugas kita adalah menjaga amanah ini
dengan baik, termasuk meneruskan pada siapa saja yang membutuhkannya.
Paradigma yang terakhir ini akan membuat kita menyikapi masalah secara berbeda. Kalau biasanya Anda merasa terganggu begitu ada orang yang membutuhkan bantuan, sekarang Anda justru merasa bersyukur.
Kenapa? Karena Anda melihat hal itu sebagai kesempatan untuk menjadi ”perpanjangan tangan” Tuhan. Anda tak merasa terganggu karena tahu bahwa tugas Anda hanyalah meneruskan ”titipan” Tuhan untuk membantu orang yang sedang kesulitan.Cara berpikir seperti ini akan melahirkan hidup yang berkelimpah ruahan dan penuh anugerah bagi kita dan lingkungan sekitar. Hidup seperti ini adalah hidup yang senantiasa bertambah dan tak pernah berkurang.
Semua orang akan merasa menang, tak ada yang akan kalah. Alam semesta sebenarnya bekerja dengan konsep ini, semua unsur-unsurnya bersinergi, menghasilkan kemenangan bagi semua pihak. Sebagai penutup, ijinkanlah saya menuliskan seuntai puisi dari seorang bijak: ”Engkau tidak pernah memiliki sesuatu, Engkau hanya memegangnya sebentar, Kalau engkau tak dapat melepaskannya, engkau akan terbelenggu olehnya. Apa saja hartamu, harta itu harus kau pegang dengan tanganmu seperti engkau menggenggam air. Genggamlah erat-erat dan harta itu lepas. Akulah itu sebagai milikmu dan engkau mencemarkannya. Lepaskanlah, dan semua itu menjadi milikmu selama-lamanya”
Seorang pemuda yang duduk dalam bus tercengang, dan bertanya pada si bapak tua, ”Mengapa bapak melemparkan sepatu bapak yang sebelah juga?” Bapak tua itu menjawab dengan tenang, ”Supaya siapa pun yang menemukan sepatuku bisa memanfaatkannya.” Bapak tua dalam cerita di atas adalah contoh orang yang bebas dan merdeka. Ia telah berhasil melepaskan keterikatannya pada benda. Ia berbeda dengan kebanyakan orang yang mempertahankan sesuatu semata-mata karena ingin memilikinya, atau karena tidak ingin orang lain memilikinya.
Sikap mempertahankan sesuatu — termasuk mempertahankan apa yang sudah tak bermanfaat lagi — adalah akar dari ketamakan. Penyebab tamak adalah kecintaan yang berlebihan pada harta benda. Kecintaan ini melahirkan keterikatan. Kalau Anda sudah terikat dengan sesuatu, Anda akan mengidentifikasikan diri Anda dengan sesuatu itu. Anda bahkan dapat menyamakan kebahagiaan Anda dengan memiliki benda tersebut. Kalau demikian, Anda pasti sulit memberikan apapun yang Anda miliki karena hal itu bisa berarti kehilangan sebagian kebahagiaan Anda.
Kalau kita pikirkan lebih dalam lagi ketamakan sebenarnya berasal dari pikiran dan paradigma kita yang salah terhadap harta benda. Kita sering menganggap harta kita sebagai milik kita. Pikiran ini salah.
Harta kita bukanlah milik kita. Ia hanyalah titipan dan amanah yang suatu ketika harus dipertanggungjawabkan. Pertanggungjawaban kita adalah sejauh mana kita bisa menjaga dan memanfaatkannya.Peran kita dalam hidup ini hanyalah menjadi media dan perantara. Semuanya adalah milik Tuhan dan suatu ketika akan kembali kepadaNya.Tuhan telah menitipkan banyak hal kepada kita: harta benda, kekayaan, pasangan hidup, anak-anak, dan sebagainya. Tugas kita adalah menjaga amanah ini
dengan baik, termasuk meneruskan pada siapa saja yang membutuhkannya.
Paradigma yang terakhir ini akan membuat kita menyikapi masalah secara berbeda. Kalau biasanya Anda merasa terganggu begitu ada orang yang membutuhkan bantuan, sekarang Anda justru merasa bersyukur.
Kenapa? Karena Anda melihat hal itu sebagai kesempatan untuk menjadi ”perpanjangan tangan” Tuhan. Anda tak merasa terganggu karena tahu bahwa tugas Anda hanyalah meneruskan ”titipan” Tuhan untuk membantu orang yang sedang kesulitan.Cara berpikir seperti ini akan melahirkan hidup yang berkelimpah ruahan dan penuh anugerah bagi kita dan lingkungan sekitar. Hidup seperti ini adalah hidup yang senantiasa bertambah dan tak pernah berkurang.
Semua orang akan merasa menang, tak ada yang akan kalah. Alam semesta sebenarnya bekerja dengan konsep ini, semua unsur-unsurnya bersinergi, menghasilkan kemenangan bagi semua pihak. Sebagai penutup, ijinkanlah saya menuliskan seuntai puisi dari seorang bijak: ”Engkau tidak pernah memiliki sesuatu, Engkau hanya memegangnya sebentar, Kalau engkau tak dapat melepaskannya, engkau akan terbelenggu olehnya. Apa saja hartamu, harta itu harus kau pegang dengan tanganmu seperti engkau menggenggam air. Genggamlah erat-erat dan harta itu lepas. Akulah itu sebagai milikmu dan engkau mencemarkannya. Lepaskanlah, dan semua itu menjadi milikmu selama-lamanya”
Sepuluh Menit Lebih Lama
Orang-orang hebat sebenarnya hanyalah orang-orang biasa yang memiliki tekad yang luar biasa. Saat orang-orang di sekeliling anda menyerah dan mundur, kertakkan gigi anda dan cobalah untuk menggali sedikit lebih dalam.
Sukses diraih dan dipertahankan oleh mereka yang terus mencoba. Majulah, dan akuilah; hari ini anda mungkin belum mencapai apa yang anda inginkan, harapan dan impikan. Salah satu kunci untuk mendapatkan impian anda adalah sebuah tekad untuk tidak pernah menyerah.
Ralph Waldo Emerson berkata, "Seseorang disebut pahlawan bukan karena ia lebih berani dari orang lain, tetapi karena ia berani bertahan sepuluh menit lebih lama".
Seorang atlit lari jarak jauh belajar untuk menjadi "terbiasa". Ia akan terus berlari hingga kecapekan, tetapi ia tidak akan berhenti. Pelari biasa akan menyerah. Tetapi, pelari jarak jauh tahu bahwa jika ia dapat menahan kesakitan itu sedikit lebih lama, ia akan menjadi "terbiasa".
Sebelum seseorang mencoba cukup keras dan cukup lama sampai ia menjadi "terbiasa", maka ia tidak akan pernah tahu seberapa besar yang bisa ia capai. Ingatlah, kemampuan itu terdiri dari 95% tekad untuk tetap bertahan
Sukses diraih dan dipertahankan oleh mereka yang terus mencoba. Majulah, dan akuilah; hari ini anda mungkin belum mencapai apa yang anda inginkan, harapan dan impikan. Salah satu kunci untuk mendapatkan impian anda adalah sebuah tekad untuk tidak pernah menyerah.
Ralph Waldo Emerson berkata, "Seseorang disebut pahlawan bukan karena ia lebih berani dari orang lain, tetapi karena ia berani bertahan sepuluh menit lebih lama".
Seorang atlit lari jarak jauh belajar untuk menjadi "terbiasa". Ia akan terus berlari hingga kecapekan, tetapi ia tidak akan berhenti. Pelari biasa akan menyerah. Tetapi, pelari jarak jauh tahu bahwa jika ia dapat menahan kesakitan itu sedikit lebih lama, ia akan menjadi "terbiasa".
Sebelum seseorang mencoba cukup keras dan cukup lama sampai ia menjadi "terbiasa", maka ia tidak akan pernah tahu seberapa besar yang bisa ia capai. Ingatlah, kemampuan itu terdiri dari 95% tekad untuk tetap bertahan
Setiap Langkah Ada Anugerah
Seorang profesor di undang untuk bericara di sebuah basis militer. Di sana ia bertemu seorang prajurit yang tak akan pernah dilupakannya, bernama Harry. Harry yang di kirim untuk menjemput professor di bandara. Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju ke tempat pengambilan kopor. Ketika berjalan keluar, Harry sering menghilang. Banyak hal yang dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh. Kemudian mengangkut anak kecil agar dapat melihat pemandangan. Ia juga menolong orang yang tersesat dan menunjukan arah jalan yang benar. Setiap kali, ia kembali ke sisi profesor dengan senyumnya menghiasi wajahnya.“Dari mana anda belajar hal-hal seperti itu?”, tanya sang profesor.“Oh”, kata Harry. “Selama perang, saya kira”.
Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam. Juga saat tugasnya membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu persatu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.
“Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah”, katanya. “Saya tak pernah tahu apakah langkah selanjutnya merupakan pijakan terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki. Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini”. Kelimpahan hidup tidak dapat ditentukan dengan berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang berkualitas dan bermafaat bagi sesamanya.
Surat dari Sang Maha Pencipta
Saat kau bangun di pagi hari, AKU memandangmu dan berharap engkau akan berbicara kepadaKU, walaupun hanya sepatah kata meminta kepadaKU atau bersyukur kepadaKU atas sesuatu hal yang indah yang terjadi dalam hidupmu hari ini atau kemarin.
Tapi AKU melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja. AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap, AKU tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKU, tetapi engkau terlalu sibuk.
Disatu tempat, engkau duduk disebuah kursi selama lima belas menit tanpa melakukan apapun. Kemudian AKU melihat engau menggerakkan kakimu. AKU berfikir engau akan berbicara kepadaKU tetapi engkau berlari ke telephone. Dan menelephone seseorang teman untuk mendengarkan gossip terbaru. AKU berfikir engkau terlalu sibuk mengucapkan sesuatu kepadaKU.
Sebelum makan siang AKU melihatmu memandang ke sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepadaKU, itulah sebabnya mengapa engkao menundukkan kepalamu. Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namaKU dengan lembut sebelum mereka menyantap rizki yang AKU berikan, tetapi engaku tidak melakukannya. Yah, tidak apa-apa masih ada waktu yang tersisa dan aku berharap engkau akan berbicara kepadaKU, meskipun saat engkao pulang kerumah kelihatannya seakan-akan banyak hal yang harus kau kerjakan. Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan TV, AKU tidak tahu apakah kau suka menonton TV atau tidak, hanya saja engkau selalu kesana dan menghabiskan banyak waktu setiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati acara yang ditanpilkan. Kembali AKU menanti dengan sabar saat engkau menonton TV dan menikmati makananmu tetapi kembali kembali kau tidak bebicara kepadaKU.
Saat tidur dirimu KUpikir kau merasa telah lelah. Setelah mengucapkan-kan selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ketempat tidur tanpa sepatahpun namaKU kau sebut. Tidak apa-apa karena mungkin engkau tidak menyadari bahwa aku selalu hadir untukmu. AKU telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari. AKU bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain. AKU sangat menyayangimu, setiap hari AKU menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberiku sedikit waktu untuk menyapaKU.
Tapi yang AKU tunggu….ah, tak jua kau menyapaKU. Dari detik ke detik, dari menit ke menit, dari jam ke jam, hingga hari berganti lagi, kau masih mengacuhkan AKU, tak ada sepatah kata, tak ada seucap do’a, dan tak ada rasa, tak ada harapan dan keinginan untuk bersujud kepadaKU.
Apa salahKU padamu? Rizki yang AKU limpahkan, kesehatan yang AKU berikan, harta yang AKU relakan, makanan yang AKU hidangkan, anak-anak yang AKU rahmatkan apakah hal itu tidak membuatmu ingat padaKU?, dan bersujud menghadapKU.
Ibuku Bermata Satu
Ibuku hanya memiliki satu mata. Aku
membencinya, ia adalah sebuah hal yang memalukan. Ibuku menjalankan sebuah toko
kecil pada sebuah pasar. Dia mengumpulkan barang-barang bekas dan sejenisnya
untuk dijual, apapun untuk mendapatkan uang yang kami butuhkan. Ia adalah
sebuah hal yang memalukan. Pada suatu
hari di sekolah. Aku ingat saat itu hari ketika ibuku datang. Aku sangat malu. Mengapa ia melakukan hal ini
kepadaku? Aku melemparkan muka dengan
rasa benci dan berlari. Keesokan harinya di sekolah.. “Ibumu hanya memiliki satu mata?” dan mereka semua
mengejekku. Aku berharap ibuku hilang dari dunia ini, maka aku berkata kepada
ibu aku,”Ibu, kenapa kamu tidak memiliki mata lainnya? Ibu hanya akan menjadi
bahan tertawaan. Kenapa Ibu tidak mati
saja?” Ibu tidak menjawab. Aku merasa
sedikit buruk, tetapi pada waktu yang sama, rasanya sangat baik bahwa
aku telah mengatakan apa yang telah ingin aku katakan selama ini. Mungkin itu
karena ibu tidak menghukum aku, tetapi aku tidak berpikir bahwa aku telah sangat melukai perasaannya. Malam
itu, Aku terbangun dan pergi ke dapur untuk mengambil segelas air. Ibuku menangis di sana, dengan pelan, seakan
ia takut bahwa ia akan membangunkanku. Aku melihatnya, dan pergi. Karena perkataanku
sebelumnya kepadanya, ada sesuatu yang
mencubit hati aku.
Meskipun begitu, Aku membenci ibuku yang
menangis dari satu matanya. Jadi, Aku
mengatakan diri ku jikalau aku tumbuh dewasa dan menjadi sukses, karena aku membenci ibu bermata-satu dan
kemiskinan kami. Lalu aku belajar dengan keras, aku meninggalkan ibu ke Seoul
untuk belajar, dan diterima di Universitas Seoul dengan segala kepercayaan
diri. Lalu, aku menikah, aku membeli rumah milikku sendiri dan memiliki
anak-anak juga. Sekarang, aku hidup bahagia sebagai seorang pria yang sukses,
aku menyukainya disini karena ini adalah tempat yang tidak meningatkan aku akan
ibu.
Kebahagiaan ini menjadi besar dan
semakin besar, ketika seseorang tidak terduga menjumpai aku “Apa?! Siapa ini?”…
Ini adalah ibu aku.. tetap dengan satu matanya. Ini rasanya seperti seluruh
langit sedang jatuh ke diri aku. Anak perempuan aku lari kabur, takut akan mata
ibu aku, aku bertanya kepadanya, “Siapa
Anda? aku tidak mengenalmu!!” aku bersandiwara. aku berteriak kepadanya
“Mengapa engkau berani datang ke rumah aku dan menakuti anak-anakku! Pergi dari
sini sekarang juga!” ibu dengan pelan menjawab, “Oh, maafkan aku, aku pasti
salah alamat,” dan dia menghilang. Terima kasih Tuhan. Ia tidak mengenali aku,
lega rasanya. aku mengatakan kepada diri aku bahwa aku tidak akan peduli, atau
berpikir tentang ini sepanjang sisa hidup aku. Lalu ada perasaan lega datang
kepada aku. Suatu hari, ada surat undangan reuni teman-teman sekolahku dulu.
Aku berbohong kepada istri, ku katakan bahwa aku pergi bisnis. Setelah reuni
ini, aku pergi ke rumah lama aku.. karena rasa penasaran saja, aku menemukan
ibu terjatuh di tanah. Tetapi aku tidak meneteskan satu air mata. Ia memiliki
sepotong kertas di tangannya dan itu adalah surat untuk ku.
Anakku, hidupku sudah cukup lama. Aku tidak
akan mengunjungi Seoul lagi, tetapi apakah itu terlau berat jika aku ingin kamu
datang menunjungiku sekali saja nak? aku sangat merindukanmu, aku sangat lega
ketika mendengar kamu akan datang pada reuni ini. Tetapi aku memutuskan untuk
tidak datang ke sekolah. Untuk kamu, maafkan jika aku hanya bermata satu dan
hanya memalukanmu. Tahukah kamu, ketika masih kecil, kamu mengalami kecelakaan,
dan satu matamu luka dan rusak tidak dapat disembuhkan. Sebagai seorang ibu,
aku tidak tahan melihatmu tumbuh dengan satu mata, maka ku putuskan mendonorkan
mata ini untuk mu, aku sangat bangga kepadamu yang melihat dunia dengan dua
mata itu. Aku tidak pernah marah kepadamu atas apapun yang kamu lakukan.
Beberapa kali ketika kamu marah kepadaku, kamu selalu menyesali memilili ibu
yang bermata satu. Semuanyta ku biarkan, rahasia ini hanya milik ibu, karena aku sangat mencintai anakku.” Aku
rindu waktu ketika kamu masih kecil dan berada di sekitarku.
Aku sangat merindukanmu, aku mencintaimu. Kamu adalah
duniaku. Kamu adalah mutiaraku, Kamu
adalah segala-galanya bagiku. Pengorbananku ikhlas, tidak butuh imbalan apapun,
walau hanya sekedar ucapan terima kasih. Ketahuilah anakku, itulah jawaban yang
selama ini kamu tunggu-tunggu.Itulah
perjuangan seorang ibu, dan itulah balasanmu selama ini, tetapi aku tetap
memaafkanmu sebelum kamu minta maaf.
Kamis, 11 April 2013
Tak Ada Jalan Pintas
Keberhasilan tak diperoleh begitu saja. la adalah buah dari pohon kerja keras. Jangan terlalu berharap pada kemujuran. Tahukah anda apa itu kemujuran? Bukankah, kita tak selalu mampu menjelaskan dari mana datangnya kemujuran.
Sadarilah bahwa segala sesuatu perlu berjalan alami dan semestinya. Pertumbuhan diri adalah proses mendaki tangga. Anda harus melalui anak tangga satu per satu. Tak perlu repot mencari-cari jalan pintas,karena tak ada jalan pintas.
Hargai saja setiap langkah kecil yang membawa anda maju. Ketergesaan adalah beban yang memberati langkah saja. Amatilah jalan lurus anda. Tak peduli bergelombang atau berbatu,
selama anda yakin berada di jalan yang tepat, maka melangkahlah terus.Dan, jalan yang tepat itu adalah jalan yang menuntun anda menjadi diri anda sendiri.
Sadarilah bahwa segala sesuatu perlu berjalan alami dan semestinya. Pertumbuhan diri adalah proses mendaki tangga. Anda harus melalui anak tangga satu per satu. Tak perlu repot mencari-cari jalan pintas,karena tak ada jalan pintas.
Hargai saja setiap langkah kecil yang membawa anda maju. Ketergesaan adalah beban yang memberati langkah saja. Amatilah jalan lurus anda. Tak peduli bergelombang atau berbatu,
selama anda yakin berada di jalan yang tepat, maka melangkahlah terus.Dan, jalan yang tepat itu adalah jalan yang menuntun anda menjadi diri anda sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)