Selasa, 02 April 2013
AKU HANYALAH SEORANG HAMBA
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...
Kalau ada pakaian yang robek, Rasulullah menambalnya sendiri tanpa perlu menyuruh isterinya. Beliau juga memeras susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang sudah siap di masak untuk dimakan, sambil tersenyum baginda menyinsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur.
Sayidatina Aisyah menceritakan Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga. Jika mendengar azan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pula kembali sesudah selesai sembahyang.Pernah baginda pulang pada waktu pagi. Tentulah baginda amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina Aisyah belum ke pasar. Maka Nabi bertanya, Belum ada sarapan ya Khumaira? (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina Aisyah yang berarti Wahai yang kemerah-merahan)Aisyah menjawab dengan agak serba salah, Belum ada apa-apa wahai Rasulullah. Rasulullah lantas berkata, Jika begitu aku puasa saja hari ini. tanpa sedikit tergambar rasa kesal di wajahnya.
Sebaliknya baginda sangat marah tatkala melihat seorang suami memukul isterinya. Rasulullah menegur, Mengapa engkau memukul isterimu? Lantas dijawab dengan agak gementar, Isteriku sangat keras kepala. Sudah diberi nasehat dia tetap bandel, jadi aku pukul dia.Aku tidak bertanya alasanmu, sahut Nabi s.a.w. Aku menanyakan mengapa engkau memukul teman tidurmu dan ibu bagi anak-anakmu?Pernah baginda bersabda, sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya.Prihatin, sabar dan tawadhuknya baginda dalam menjadi kepala keluarga tidak menampakkan kedudukannya sebagai pemimpin umat.
Pada suatu ketika baginda menjadi imam sholat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan baginda antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi menggeretak seolah-olah sendi-sendi pada tubuh baginda yang mulia itu bergeser antara satu sama lain.Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya setelah selesai bersembahyang, Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah baginda menanggung penderitaan yang amat berat, tuan sakitkah ya Rasulullah?Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar.Ya Rasulullah mengapa setiap kali tuan menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah sendi bergeser di tubuh tuan? Kami yakin engkau sedang sakit desak Umar penuh cemas.
Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergerak tubuh baginda.Ya Rasulullah! Adakah bila tuan menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan mendapatkannya buat tuan?Lalu baginda menjawab dengan lembut, Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi apakah akan aku jawab di hadapan ALLAH nati, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi beban kepada umatnya?
Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak.Baginda pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor.Baginda hanya diam dan bersabar ketika kain ridanya ditarik dengan kasar oleh seorang Arab Baduwi hingga berbekas merah di lehernya.
Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh tempat yang dikencing si Baduwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan itu.Mengenang pribadi yang amat halus ini, timbul persoalan dalam diri kita adakah lagi bayangan pribadi baginda Rasulullah s.a.w. hari ini?Apakah rahasia yang menjadikan jiwa dan akhlak baginda begitu indah? Apakah yang menjadi rahasia kehalusan akhlaknya hingga sangat memikat dan menjadikan mereka begitu tinggi kecintaan padanya.
Apakah kunci kehebatan peribadi baginda yang bukan saja sangat bahagia kehidupannya walaupun di dalam kesusahan dan penderitaan, bahkan mampu pula membahagiakan orang lain tatkala di dalam derita. Kecintaannya yang tinggi terhadap ALLAH swtdan rasa kehambaan yang sudah menyatu dalam diri Rasulullah saw menolak sama sekali rasa ketuanan.Seolah-olah anugerah kemuliaan dari ALLAH tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang lain, ketika di depan umum maupun dalam kesendirian.
Ketika pintu Syurga telah terbuka seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih lagi berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah hingga pernah baginda terjatuh lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak. Fisiklnya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi. ketika ditanya oleh Sayidatina Aisyah, Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin masuk Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?Jawab baginda dengan lunak, Ya Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur.
KISAH DIALOG RASULULLAH DENGAN IBLIS
Diriwayatkan oleh Muadz bin Jabal r.a. dari Ibn Abbas r.a., ia berkata : " Kami bersama Rasululah SAW berada di rumah seorang sahabat dari golongan Anshar dalam sebuah jamaah. Tiba-tiba, ada
yang memanggil dari luar : " Wahai para penghuni rumah, apakah kalian mengizinkanku masuk, kerana kalian memerlukanku ". Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat :" Apakah kalian
tahu siapa yang menyeru itu ?". Para sahabat menjawab , " Tentu Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui ". Rasulullah berkata : " Dia adalah Iblis yang terkutuk - semoga Allah senantiasa
melaknatnya". Umar bin Khattab r.a. berkata :" Ya, Rasulullah, apakah engkau mengizinkanku untuk membunuhnya?". Nabi SAW berkata pelan :" Bersabarlah wahai Umar, apakah engkau tidak tahu
bahawa dia termasuk mereka yang tertunda kematiannya sampai waktu yang ditentukan ?. Sekarang silakan bukakan pintu untuknya, kerana ia sedang diperintahkan Allah SWT. Fahamilah apa
yang dia ucapkan dan dengarkan apa yang akan dia sampaikan kepada kalian ! ".
Ibnu Abbas berkata : " Maka dibukalah pintu, kemudian Iblis masuk ke tengah-tengah kami. Ternyata dia adalah seorang yang sudah tua bangka dan buta sebelah mata. Dagunya berjanggut
sebanyak tujuh helai rambut yang panjangnya seperti rambut kuda, kedua kelopak matanya memanjang , kepalanya seperti kepala gajah yang sangat besar, gigi taringnya memanjang
keluar seperti taring babi, kedua bibirnya seperti bibir macan / kerbau . Dia berkata, " Assalamu 'alaika ya Muhammad, assalamu 'alaikum ya jamaa'atal-muslimin ". Nabi SAW menjawab :"
Assamu lillah ya la'iin AKU telah mengetahui, engkau punya keperluan kepada kami. Apa keperluanmu wahai Iblis".
Iblis berkata :" Wahai Muhammad, aku datang bukan kerana keinginanku sendiri, tetapi aku datang kerana terpaksa ."
Nabi SAW berkata :" Apa yang membuatmu terpaksa harus datang kesini, wahai terlaknat?".
Iblis berkata," Aku didatangi oleh seorang malaikat utusan Tuhan Yang Maha Agung, ia berkata kepada-ku 'Sesungguhnya Allah SWT menyuruhmu untuk datang kepada Muhammad SAW dalam
keadaan hina dan bersahaja. Engkau harus memberitahu kepadanya bagaimana tipu muslihat, godaanmu dan rekayasamu terhadap Bani Adam, bagaimana engkau membujuk dan merayu mereka.
Engkau harus menjawab dengan jujur apa saja yang ditanyakan kepa-damu'. Allah SWT bersabda," Demi kemulia-an dan keagungan-Ku, jika engkau berbohong sekali saja dan tidak berkata benar,
niscaya Aku jadikan kamu debu yang dihempas oleh angin dan Aku puaskan musuhmu karena bencana yang menimpamu".
Wahai Muhammad, sekarang aku datang kepadamu sebagaimana aku diperintah. Tanyakanlah kepadaku apa yang kau inginkan. Jika aku tidak memuaskanmu tentang apa yang kamu tanyakan
kepadaku, nescaya musuhku akan puas atas musibah yang terjadi padaku. Tiada beban yang lebih berat bagiku daripada leganya musuh-musuhku yang menimpa diriku".
Rasulullah kemudian mulai bertanya :" Jika kamu jujur, beritahukanlah kepada-ku, siapakah orang yang paling kamu benci ?".
Iblis menjawab :" Engkau, wahai Muhammad, engkau adalah makhluk Allah yang paling aku benci, dan kemudian orang-orang yang mengikuti agamamu".
Rasulullah : Bagaimana pendapatmu tentang aku?
Iblis : Aku mampu mengubah diri, bentuk, rupa serta suara siapapun bahkan menirukan segala suara binatang dan lain-lain. Namun aku tak sanggup menyamar menyerupaimu karena Allah
melarang keras. Sekali-kali aku tak berani melangggar larangan itu. Bila aku berbuat juga niscaya hancurlah aku menjadi abu.
Rasulullah : Bagaimana caramu memperlakukan makhluk Allah?
Iblis : Ada beberapa cara :
- Terhadap wanita kugiatkan nafsunya hingga merenggangkan kedua pahanya kepada laki-laki yang bukan suaminya. Dengan begini terjadilah perzinahan.
- Sebagian kulalaikan dari zakat, dan kuberdayakan dengan makanan dan minuman haram serta perbuatan maksiat.
- Sebagian aku lalaikan dengan harta kekayaan sehingga dengan itu mereka berbuat maksiat.
- Antara kaum laki-laki dan kaum wanita kuperdaya imannya hingga berbelok dan lemah. Dengan demikian lebih mudah bagiku menarik mereka ke jalan maksiat. Kusenangkan mereka di tempat-
tempat hiburan dengan minuman keras. Dan bila rasa malu telah hilang kerana mabuk maka hilang pula akal dan pikirannya, saat itu kutaburkan syahwat di antara mereka sehingga terbukalah
pintu-pintu maksiat yang besar.
- Dan apabila mereka terlanjur melakukan maksiat-maksiat besar lalu ingin bertaubat dan mulai beribadah lagi maka kukerahkan segala taktik supaya mereka menangguhkan taubat dan ibadahnya.
- Sebahagian kumasuki hatinya supaya mereka beramal dengan riya (supaya dipuji orang) dan ujub (mengagumi amalnya sendiri). Penghasutan ini berlaku siang dan malam.
Rasulullah : Mengapa engkau bersusah payah melakukan pekarjaan yang tak memberimu faedah malah menambah kutuk dan laknat bagimu di akhirat.
Iblis : Ini disebabkan oleh hawa nafsu, takabbur, hasad dan dengki sehingga menjatuhkan aku kedalam kehinaan. Aku telah beribu-ribu tahun menjadi pemimpin segala malaikat melakukan tasbih
dan ibadah kepada Allah sampai datanglah firman Allah kepada kami:
"Aku hendak menciptakan seorang khalifah di dunia".
Dan setelah Adam tercipta, kami diperintahkan sujud kepadanya. Semua malaikat sujud tetapi aku tidak dengan alasan aku lebih mulia daripada Adam kerana aku diciptakan dari api sedang Adam
dari tanah.
Dan kerana kesombonganku Tuhan murka. Aku diusir dan dilaknat sampai hari kiamat. Wajahku yang dulunya bercahaya dan cakap sirna menjadi buruk dan keji, sedangkan Adam ditetapkan
menjadi khalifah dan bertempat tinggal di syurga bersama isterinya Siti Hawa. Mereka bergembira ria didalamnya sehingga dendamku menjadi-jadi. Melalui Hawa tipu dayaku berhasil. Mereka
memakan buah larangan, lalu Allah murka dan menurunkan mereka di tempat yang terpisah di bumi. Setelah sekian lama baru mereka bertemu kemudian mempunyai anak laki-laki dan perempuan.
Lalu kuhasut pula anak Adam yang bernama Qobil agar membunuh saudaranya Habil. Aku belum puas sampai disitu, aku akan terus memperdaya anak cucu Adam hingga hari kiamat. Namun
setelah engkau diutus, segala rayuan dan pujukan yang kulakukan terhalang kerana mereka Engkau ajak menganut agama Islam. Dahulu sebelum engkau dilahirkan, aku dan tentera-tenteraku
bebas naik ke langit mencari rahsia-rahsia tentang nasib manusia atau tulisan yang menyuruh manusia beribadah dengan ganjaran syurga. Maka apabila aku turun kubisikkan pada mereka dengan
cara yang bertentangan sehingga mereka tersesat. Tetapi sejak engkau dilahirkan, golongan iblis tidak lagi diperbolehkan naik ke langit. Pintu-pintu langit dijaga ketat oleh malaikat-malaikat dan
bila aku dan tenteraku berkeras menerobosl langit, para malaikat membidik dengan panah-panah berapi. Banyak tenteraku yang terbakar kerananya.
Rasulullah : Apa yang lebih engkau dahulukan dalam memperdayakan manusia?
Iblis : Pertama sekali kupalingkan imannya supaya mengubah iktikadnya dari mukmin kepada syirik, baik dari perkataan, perbuatan mahupun niat di hatinya. Jika tidak dapat kupalingkan dengan
cara ini aku mengubah cara dengan mengurangkan pahalanya supaya lama-kelamaan terjerumus dalam tipu dayaku.
Rasulullah SAW :" Siapa lagi yang kamu benci?".
Iblis :" Anak muda yang taqwa, yang menyerahkan jiwanya kepada Allah SWT".
Rasulullah :" Lalu siapa lagi ?".
Iblis :" Orang Alim dan Wara yang saya tahu, lagi penyabar".
Rasulullah :" Lalu, siapa lagi ?".
Iblis :" Orang yang terus menerus menjaga diri dalam keadaan suci dari kotoran".
Rasulullah :" Lalu, siapa lagi ?".
Iblis :" Orang miskin yang sabar, yang tidak menceritakan kefakirannya kepada orang lain dan tidak mengadukan keluh-kesahnya ".
Rasulullah :" Bagaimana kamu tahu bahawa ia itu penyabar ?".
Iblis :" Wahai Muhammad, jika ia mengadukan keluh kesahnya kepada makhluq sesamanya selama tiga hari, Tuhan tidak memasukkan dirinya ke dalam golongan orang-orang yang sabar ".
Rasulullah :" Lalu, siapa lagi ?".
Iblis :" Orang kaya yang bersyukur ".
Rasulullah bertanya :" Bagaimana kamu tahu bahwa ia bersyukur ?".
Iblis :" Jika aku melihatnya meng-ambil dari dan meletakkannya pada tempat yang halal".
Rasulullah : Bagaimana keadaanmu bila ummatku menegakkan sholat?
Iblis : Seluruh tubuhku gementar , lemah longlai sendi-sendi tulangku. Maka aku perintahkan anak buahku menghalang-halangi dan menggoda orang lslam yang akan solat. Setiap orang dengan
berpuluh-puluh syaitan. Sebahagian menaiki badan orang yang solat itu agar berat dan malas. Sebahagian lagi membisikkan hatinya agar was-was sehingga kadangkala terlupa rakaat yang
dikerjakan. Sebahagian lagi menaiki telinganya sehingga ia mendengarkan orang-orang yang bercakap-cakap, bunyi-bunyian dan sebagainya dari perbuatan yang sia-sia. Sebahagian lagi
menduduki belakangnya agar tak tahan duduk dan sujud lama, sehingga ingin cepat selesai.
Rasulullah :"Kenapa, wahai terlaknat?".
Iblis :" Sesungguhnya, jika seorang hamba bersujud kepada Allah sekali sujud saja, maka Allah mengangkat darjatnya satu tingkat".
Rasulullah : Bagaimana keadaanmu apabila ummatku berpuasa kerana Allah semata?
Iblis : Inilah suatu bencana dan kesedihan yang amat sangat aku rasakan kerana apabila masuk bulan Ramadhan maka memancarlah cahaya Arsyi dan Kursy serta seluruh malaikat menyambutnya
dengan kegembiraan. Bagi orang islam yang berpuasa akan mendapatkan kurnia yang besar dari Allah. Dosa-dosanya diampuni oleh Allah. Yang paling menyakitkan hatiku adalah seluruh isi langit
dan bumi ikut memohonkan ampunan bagi orang-orang yang berpuasa. Setinggi-tingginya yang capai oleh orang yang berpuasa adalah dibebaskan oleh Tuhan setiap hari dalam bulan Ramadhan
seribu pembebasan dan azab api neraka. Semua pintu neraka ditutup rapat dan semua pintu syurga dibuka lebar-lebar dan berhembuslah angin sepoi-sepoi dari bawah Arsyi melalui surga. Setiap
awal bulan puasa, malaikat turun atas perintah Tuhan menangkap kami. Mereka membelenggu dan merantai kaki dan tangan kami dengan besi yang panas lalu memasukkan kami ke bawah bumi
yang sangat dalam dengan azab yang sangat keras sampai ummatmu selesai berpuasa barulah kami dibebaskan. Semua itu dimaksudkan agar kami tidak dapat mengacau ummat yang sedang
berpuasa sehingga mereka berpuasa dengan perasaan gembira.
Rasulullah :" Bagaimana perasaanmu jika ummatku menunaikan haji kerana Allah semata??".
Iblis :" Saya menjadi gila".
Rasulullah: Bagaimana perasaanmu apabila ummatku membaca Al-Qu`an dengan ikhlas?
Iblis : Tubuhku terasa hangus dan terasa putus urat-uratku, maka segera aku lari menghindar.
Rasulullah :" Jika mereka berzakat ?".
Iblis :" Seakan-akan orang yang berzakat itu mengambil gergaji / kapak dan memotongku menjadi dua".
Rasulullah :" Mengapa begitu, wahai Abu Murrah ?".
Iblis :" Sesungguhnya ada empat manfaat dalam zakat itu. Pertama, Tuhan menurunkan berkah atas hartanya. Kedua, menjadikan orang yang berzakat disenangi makhluk-Nya yang lain. Ketiga,
menjadikan zakatnya sebagai penghalang antara dirinya dengan api neraka. Ke-empat, dengan zakat, Tuhan mencegah bencana dan malapetaka agar tidak menimpanya".
Rasulullah : Bagaimana pandangmu terhadap masing-masing sahabatku (yang empat itu)?
Iblis : Semua sahabatmu adalah musuhku.
Rasulullah :"Apa pendapatmu tentang Abu Bakar?".
Iblis :" Wahai Muhammad, pada zaman jahiliyah, Abu Bakar Siddiq Quhafah sebelum bersamamu aku tak sanggup mendekatinya apalagi setelah mendampingimu. Dialah yang pertama kali
menyaksikan engkau sebagai Rasul Allah dan engkau pernah mengatakan bahwa seandainya ditimbang kebajikan Abu Bakar Siddiq dengan kebajikan isi dunia, nescaya lebih berat kebajikan Abu
Bakar Siddiq. Lagi pula Abu bakar adalah mertuamu kerana engkau nikahi anak gadisnya Aisyah.
Rasulullah :" Apa pendapatmu tentang Umar ?".
Iblis :" Demi Tuhan, terhadap Umar Ibnu Khaththab aku tak sanggup memandang wajahnya kerana ia sangat keras menjalankan syariatmu. Aku gementar apabila memandang wajahnya. Imannya
kukuh. Engkau pernah mengatakan bahawa seandainya ada Nabi lagi setelah engkau maka Umar Ibnu Khaththab yang akan diangkat. Sehingga dia digelari Umar Al-Faruq.
Rasulullah :"Apa pendapatmu tentang Utsman ?".
Iblis :" Terhadap Usman Ibnu Affan,aku malu dengan orang yang para malaikat saja malu kepadanya". Aku tak kuasa menghampirinya kerana lidahnya senantiasa membaca Al-Qur`an siang,
malam, pagi dan petang. Dialah penghulu orang yang sabar lagi pula dia adalah menantumu.
Rasulullah :"Apa pendapatmu tentang Ali ?".
Iblis: Terhadap Ali Ibnu Abu Thalib aku sangat takut kerana kegagahannya bertempur di medan perang. Bila kami golongan iblis memandang wajahnya akan terbakarlah biji mata kami kerana dia
sangat kuat menjalankan perintah Allah. Dialah yang pertama kali memeluk agama Islam dari golongan anak-anak. Ia tak pernah sekalipun menundukkan pandangan matanya dari patung-patung,
sehingga digelari Sayyidina Ali Karamallahu Wajhah (dimuliakan Allah kerana wajahnya). Engkau mengatakan engkaulah negeri semua ilmu dan Ali itu pintunya.
Rasulullah : Bagaimana caramu memperdaya ummatku?
Iblis : Bagiku ummatmu terbagi tiga:
Pertama : Seperti air hujan dari langit yang menghidupkan semua tumbuh-tumbuhan serta banyak manfaatnya. Mereka adalah guru-guru yang memberi nasihat kepada manusia agar mengerjakan
perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Kedua : Seperti tanah yaitu bersyukur dan rela atas nikmat dan kurnia Tuhan yang diberikan kepadanya. Mereka beramal soleh dan bertawakal kepada Tuhan.
Ketiga : Seperti fir`aun sangat tamak pada harta dunia sampai melupakan amal akhirat. Aku sangat suka pada orang-orang seperti ini. Kuputar hatinya pada perbuatan maksiat dan durhaka. Hatinya
terpikat pada dunia dan lupa pada akhirat.
Rasulullah : Siapakah yang serupa dengan engkau?
Iblis : Orang-orang yang meringankan syariatmu dan membenci orang-orang yang mempelajari hukum-hukum agama islam.
Rasulullah : Siapakah yang membuat mukamu berseri-seri kegirangan?
Iblis : Itulah orang-orang yang berbuat dosa dan noda dan bersumpah dengan sumpah palsu serta menyalahi janji.
Rasulullah : Cubalah terangkan perbuatanmu pada ummatku dikamar mandi?
Iblis : Orang islam apabila tidak mengucapkan perlindungan ketika memasuki kamar mandi nescaya kugosokkan najis ketubuhnya tanpa dia sedari tapi apabila dia mengucapkannya aku lari.
Rasulullah : Bagaimana perbuatanmu terhadap ummatku apabila mereka melakukan persetubuhan dengan isterinya?
Iblis : Aku lari apabila ia mengucapka doa bersetubuh, tapi bila tidak maka akulah yang mendahului bersetubuh dengan isterinya dan apabila benihku bercampur dengan benih isterinya maka anak
yang lahir akan senang kepada perbuatan maksiat.
Rasulullah : Bagaimana caranya agar dapat menolak tipu dayamu?
Iblis : Segeralah bertaubat dengan sungguh-sungguh setelah melakukan perbuatan dosa.
Rasulullah : Siapa saja yang lebih engkau sukai?
Iblis : Lelaki atau wanita yang dalam masa 40 hari tidak mencukur bulu ari-arinya, maka duduklah aku mengecilkan diri seperti kutu busuk. Aku juga berbuai-buai pada ketiak orang-orang yang tidak
mencabuti atau mencukurnya.
Rasulullah : Siapakah yang paling akrab denganmu?
Iblis : Orang-orang yang menelungkup, yang mengantuk di waktu subuh sehingga tak cepat bangun untuk solat. Orang-orang seperti ini kugomol dan kupeluk supaya puas tidurnya sampai terbit
matahari. Demikian juga pada waktu solat yang lain kukacau hatinya dengan berbagai rayuan dan tipu muslihat sehingga mereka menjadi malas mengerjakan sholat.
Rasulullah : Apakah yang dapat menghancurkanmu?
Iblis : Banyak berzikir, bersedekah secara sembunyi-sembunyi, taubat dan membaca Al-Qur`an.
Rasulullah : Apakah yang dapat memecahkan matamu bila kamu melihat?
Iblis : Orang beri`tikaf di mesjid, orang yang taat kepada kedua orang tuanya dan membantu keduanya dalam soal makanan dan pakaian.
Rasulullah : Apakah yang menyebabkan kamu terbelenggu?
Iblis : Apabila pedagang tidak curang dalam perdagangannya.
Rasulullah : Bagaimana perasaanmu apabila ummatku memberi salam kepada temannya?
Iblis : Rasanya pecah dadaku. Bila mereka bertemu yang seorang memberi salam dan yang lainnya menjawabnya aku menangis sedih karena keduanya mendapat ampunan setelah berpisah.
Rasulullah: Siapa saja yang menjadi teman karibmu?
Iblis : Para peminum minuman keras dan para pecandu kerana hal ini boleh menyebabkan perceraian dan perkelahian.
Rasulullah : Siapa temanmu yang setaraf denganmu?
Iblis : Bila berjumpa laki-laki dengan wanita maka wanita itu kududuki kuduknya dan kuhias wajahnya sehingga nampak bertambah ayu dan menawan. Dan Apabila mereka sampai berzina maka
merekalah yang setaraf denganku.
Rasulullah : Dimanakah kamu bertempat tinggal?
Iblis : Dirumah-rumah berhala, batu-batu besar dan tempat-tempat yang dianggap keramat. Apabila mereka datang kesana aku pengaruhi hatinya agar bertambah yakin kepada benda-benda yang
dikeramatkan sehingga bertambah musyriklah mereka.
Rasulullah: Dimanakah kamu selalu berkumpul?
Iblis : Ditempat hiburan dimana laki-laki dan wanita bercampur baur.
Rasulullah : Apa yang kamu kerjakan dimasjid-masjid?
Iblis : Mengacau hati orang yang solat. Dan yang kutakuti adalah yang tidur disana.
Rasulullah : Mengapa begitu? Padahal yang sedang bermunajat kepada Allah kamu tidak takut.
Bukankah yang tertidur itu dalam keadaan tak sedar dan tak melihat apa-apa?
Iblis : Orang yang solat itu mudah aku perdaya kerana sebahagian besar mereka jahil dan tak tahu hakikat syariat agama tetapi yang tertidur sebahagian besar adalah mereka yang tahu tentang
syariat agama. Bila ia terbangun aku khuatir ia menegur dan memperbaiki solat orang-orang yang kugoda.
Rasulullah : Apa yang kamu sukai dan kau puji dari seseorang?
Iblis : Suara orang-orang yang bernyanyi, bersajak diiringi bunyi-bunyian. Sedangkan orang-orang yang bernazam dan bersalawat dengan suara yang bagus kurang mengenakkan aku.
Rasulullah : Siapakah yang menjadi temanmu yang paling kau sukai?
Iblis : Para penipu dan para pemakan harta anak yatim
Rasulullah : Sebab apa kau gelapkan manusia?
Iblis : Kugelapkan hati manusia kerana mereka:
- Makan dan minum dari hasil yang haram.
- Lambat bangun sehingga meninggalkan solat subuh.
- Terlalu mengenyangkan perut sehingga malas mengerjakan solat dan ibadah.
Rasulullah : Siapa yang menggembirakanmu?
Iblis : Orang-orang kaya yang bakhil bersedekah di jalan Allah. Orang-orang yang tak mahu mengeluarkan zakat, mereka hanya mahu mengeluarkan dengan imbalan tenaga sedangkan familinya
banyak yang miskin dan berhajat pada sedekah.
Rasulullah : Siapa saja yang menggemukkan dan menyuburkanmu?
Iblis : Orang-orang yang hasad (dengki), orang-orang yang tidak mempelajari hukum-hukum agama dan wanita-wanita yang tidak menjaga kehormatannya.
Rasulullah: Bagaimana halnya bila seorang ulama mati?
Iblis : Aku akan mempersubur fitnah dikalangan masyarakat.
Rasulullah : Apakah tindakanmu apabila ummatku melaksanakan solat berjamaah?
Iblis : Sungguh akan gagallah tipu dayaku pada mereka.
Rasulullah: Bagaimana keadaanmu apabila ummatku bershalawat kepadaku?
Iblis : Itu bererti sama dengan membelah mukaku kerana mereka sangat ingat kepadamu.
Rasulullah : Apabila ummatku berpuasa Ramadhan dan ditutup dengan solat maka Allah berfirman: "Wahai malaikat-malaikat-Ku, setiap yang bekerja tentu menuntut upah, dan hamba-Ku yang
berpuasa sebulan, lalu mereka keluar berhari-raya, mereka menuntut upahnya. Aku persaksikan kepadamu bahawa Aku telah mengampuni dosa-dosa mereka". Allah berfirman lagi: " Wahai ummat
Muhammad pulanglah kerumah masing-masing, sesungguhnya Aku ampunkan semua dosamu yang lalu dan yang akan datang dan Aku gantikan dosa-dosamu dengan kebajikan". Bagaimana
perasaanmu ya iblis?
Iblis : Aku memekik sekuat-kuatnya sehingga anak buahku berdatangan. Kukatakan kepada mereka: "Wahai tentara dan pengikutku, yang menyebabkan aku berduka cita adalah kerana Allah telah
mengampuni ummat Muhammad pada hari ini. Wahai tentaraku tidakkah kamu mengetahui bahawa Allah menerima puasa ummat Muhammad dan Allah sangat mengasihi dam merahmati serta
mengabulkan segala permohonan mereka. Allah juga telah mengampuni dosa mereka. Maka hendaklah kamu goda mereka agar mereka malas beribadah dan kembali durhaka serta mengerjakan
berbagai kemaksiatan. Dengan begitu Allah murka sehingga diturunkan bala bencana. Bila sudah demikian rianglah aku.
Rasulullah : Siapa saja pendukungmu?
Iblis : Orang yang tidak bertaubat dari dosanya apalagi bila ia bangga dengan dosanya. Tetapi orang yang mengucapkan Laa ilaaha illahllah dan istighfar akan membinasakanku. Orang yang
bersiul-siul, kerana sewaktu aku diusir kedunia aku mengembara dengan bersiul-siul. Itulah hiburanku. Tetapi orang yang azan akan menghalangiku kerana malaikat hadir bersama mereka.
Rasulullah : Apakah ikhtiarmu dan usahamu atas ummatku setelah aku diutus menjadi Rasul Allah untuk menyelamatkan Bani Adam dari kesesatan kepada jalan Allah?
Iblis : Aku akan berusaha sungguh-sungguh dalam menarik Bani Adam ke jalan maksiat. Akan kujadikan laki-laki dan wanita bergaul dengan bebas supaya senang dan mudah aku menggoda
mereka kepada maksiat. Aku tidak akan berhenti menjerumuskan mereka selama nyawa dikandung badan.
Kekuasaan Bisa Menjadi Kehinaan Dan Penyesalan
Abu Dzar al-Ghiffari merupakan salah satu sahabat yang sangat dekat dengan Rasulullah Saw dan termasuk sahabat yang paling awal masuk Islam. Ia terlahir dengan nama Jundub bin Junadah bin Sakan, berasal dari suku Ghiffar. Suku Ghiffar terkenal sebagai suku penyamun sebelum datangnya Islam.Abu Dzar memeluk Islam dengan sukarela. Kegundahan hati dan keinginannya untuk berperilaku yang baik membawanya pergi menempuh perjalanan yang jauh untuk bertemu Rasulullah Saw.
Di tengah suasana Mekah yang mencekam, karena saat itu Rasullah Saw banyak mendapat ancaman dari Quraisy, Abu Dzar berhasil bertemu Rasulullah Saw dan menyatakan keislamannya. Keyakinannya terhadap Islam sangat kuat, sehingga tanpa ragu dan takut ia memberitakan keislamannya itu kepada banyak orang secara terbuka.
Sekembalinya ke kampung halamannya, Abu Dzar menyebarkan ajaran Islam pada masyarakat seluruh suku Ghiffar. Meski dengan susah payah, seluruh suku Ghiffar berhasil diajaknya memeluk Islam.Sewaktu mendengar Rasulullah Saw hijrah, Abu Dzar bersama beberapa orang dari Ghiffar pergi ke Madinah. Tujuannya untuk ikut serta membantu Rasulullah Saw berjuang menegakkan Islam. Sejak di Madinah itu, Abu Dzar menjadi dekat dengan Rasulullah Saw. Ke mana Rasulullah Saw pergi, ia selalu turut serta,
tidurnya pun di masjid. Jarang sekali, ia absen dari majelis-majelis Rasulullah Saw.
Suatu ketika ada yang mengganjal dalam hati Abu Dzar. Ia ingin terlibat lebih jauh, masuk dalam jajaran pemerintahan Rasulullah Saw di Madinah. Suatu saat ia memberanikan diri menyampaikan keinginannya itu kepada Rasulullah Saw. Ia berkata, "Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mempekerjakan aku?"
Rasulullah Saw sangat mengenal pribadi Abu Dzar. Beliau mengetahui ada sifat-sifat Abu Dzar yang tidak sesuai untuk orang yang memegang kekuasaan.
Karena itu, meskipun Abu Dzar sangat dicintainya, namun Rasulullah Saw tidak mengabulkan keinginan sahabatnya itu. Sambil menepuk kedua bahu Abu Dzar, dengan bijak Rasulullah Saw berkata, "Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah, sementara kekuasaan itu adalah amanat. Di hari kiamat kekuasaan itu nanti menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali bagi orang yang mengembannya dengan benar dan menjalankan semua amanat yang ada di dalamnya." (imam)
Ketika Bumi Menjadi Sempit
Pernahkah anda merasakan bumi yang kita diami ini menjadi sempit sehingga napas kita menjadi sesak? Jika belum, dengarlah kisah Ka'ab bin Malik lima belas abad yang lampau. Ketika Nabi yang mulia berangkat perang bersama para sahabat beliau dalam perang Tabuk, ada tiga orang sahabat yang enggan ikut
dalam barisan pasukan Nabi, yaitu Ka'ab bin Malik, Hilal bin Umayyah dan Mararah bin Rabi'ah. Ka'ab bercerita, "Ketika kudengar berita bahwa Nabi telah kembali dari Tabuk, terpikir dalam hatiku untuk berdusta. Aku berpikir bagaimana supaya selamat dari kemurkaan Nabi. Namun ketika Nabi sudah sampai di Madinah, aku berpikir bahwa aku tidak akan selamat sedikit pun.
Aku kemudian memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya mengapa aku tidak ikut berperang bersama beliau." Nabi datang di Madinah. Aku temui dia. Beliau tersenyum, senyum marah. "Kemarilah," ujar Nabi. Aku duduk di dekat beliau. Nabi yang mulia bertanya, "Apa yang menyebabkanmu tidak ikut berperang?" Aku berkata, Ya Rasul Allah, jikalau aku menghadap penduduk dunia selain engkau, tentu aku sanggup menyelamatkan diri dari dari kemurkaan dengan mengajukan alasan. Tetapi, demi Allah, sekiranya aku berdusta kepada engkau agar engkau ridha, mungkin Allah segera membuatmu marah kepadaku.
Demi Allah, aku tidak mempunyai alasan apapun. Demi Allah, waktu aku meninggalkan diri, aku berada dalam keadaan yang baik (dan mampu untuk berperang).
Rasul bersabda, "Orang ini berbicara benar. Pergilah, sampai Allah memberikan keputusan tentang kamu." Nabi kemudian mengisolir Ka'ab dan kedua temannya sampai datang putusan dari Allah. Nabi melarang kaum Muslim berbicara kepada mereka. Bahkan, isteri mereka pun kemudian dilarang mendekati
mereka. Wajah umat Islam berubah kalau melihat Ka'ab. Mereka segera memalingkan wajahnya. Ka'ab bercerita, "Aku shalat berjam'ah bersama kaum Muslimin. Aku berkeliling kota dan pasar. Tidak seorangpun menegurku. Aku datangi Rasul sesudah shalat. Aku ucapkan salam kepadanya. Aku ingin tahu
apakah beliau menggerakkan bibirnya membalas salamku.Aku shalat didekatnya dan mencoba melirik kepadanya. Usai shalat beliau melihatku, tetapi segera memalingkan wajahnya ke arah lain.
Aku tinggalkan Nabi. Aku berjalan dan berjalan, sampai ke rumah saudara sepupuku, Abu Qatadah. Kuucapkan salam, tetapi demi Allah ia tidak menjawab salamku. Aku berkata, "Hai Abu Qatadah, tahukah engkau bahwa aku mencintai Allah dan Rasul-Nya? Aku ulangi beberapa kali. Abu Qatadah hanya diam. Aku ulangi lagi. Ia menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih tahu." Air mata menggelegak di pelupuk mataku. Aku beranjak dari rumahnya." Kejadian ini berlangsung lima puluh hari. Ka'ab dan kedua kawannya mengasingkan diri di sebuah bukit. Keluarganya mengantarkan makanan kepada mereka. Suatu hari Ka'ab berkata, "Orang-orang dilarang berbicara kepada kita. Kita pun sepatutnya tidak saling berbicara. Setelah itu mereka tinggal berjauhan.
Datang pula utusan dari Syam yang bermaksud merangkul Ka'ab dan kedua temannya agar membelot dari Islam dan bergabung dengan non-Muslim. Ka'ab berkata, "Tawaran ini juga bagian dari cobaan." Ka'ab menampiknya dan tetap setia dalam Islam meski telah diisolir oleh umat Islam. Setiap hari Ka'ab dan
kedua rekannya berdo'a, beristighfar dan menangis. Setelah lima puluh hari, Allah menurunkan ayat: " (Dan Allah juga mengampuni) tiga orang yang meninggalkan diri di belakang. Ketika bumi yang luas terbentang terasa sempit bagi mereka dan mereka rasakan napas mereka sesak. Mereka tahu bahwa tidak
ada tempat berlindung kecuali Allah. Kemudian Allah mengasihi mereka agar mereka kembali kepada Tuhan. Sesungguhnya Allah Penerima Taubat dan Maha Penyayang" (QS 9: 118)
Ka'ab mendengar berita pengampunan ini setelah subuh. Ia memeluk pembawa berita. Ia rebahkan dirinya bersujud syukur. Segera ia temui Rasul. Rasul menyambutnya dengan senyum yang bersinar. Ketika melihat sambutan Nabi seperti itu (yang berbeda dengan sebelumnya). Ka'ab tidak dapat menahan air
matanya. Ia menciumi tangan dan kaki Rasul yang mulia. Karena ia mendapat ampunan itu berkat kejujurannya, ia berjanji bahwa sejak itu lidahnya tidak akan pernah mengucapkan kebohongan. (Tafsir al-Durr al-Mantsur 4:309-315; Jalaluddin Rakhmat, 1993: 77-80)
Akankah kita meninggalkan perintah Allah sementara kita sehat wal afiat.
Naudzubillahi min dzalik
Anda Melakukan Tiga Kesalahan
Umar bin Khatab terkenal sebagai khalifah yang suka berjalan di tengah malam untuk mengontrol keadaan rakyatnya. Di suatu malam, Umar mendengar suara seorang laki-laki dalam sebuah rumah yang sedang tertawa asyik ditingkahi gelegak tawa wanita.
Umar mengintip, lalu memanjat jendela dan masuk ke rumah tersebut seraya menghardik, “hai hamba Allah! apakah kamu mengira Allah akan menutup aibmu padahal kamu berbuat maksiat!!!”
Orang tua itu menjawab dengan tenang, “Jangan terburu-buru ya Umar, saya boleh jadi melakukan satu kesalahan tapi anda telah melakukan tiga kesalahan. Pertama, Allah berfirman, Wa la tajassasu…”jangan kamu (mengintip) mencari-cari kesalahan orang lain” (al-Hujurat: 12).
Wa qad tajassasta (dan Anda telah melakukan tajasus).
Kedua, “Masuklah ke rumah-rumah dari pintunya” (Al-Baqarah 189) dan Anda sudah menyelinap masuk.
Ketiga, anda sudah masuk rumah tanpa izin, sedangkan Allah telah berfirman, “Janganlah kamu masuk ke rumah yang bukan rumahmu sebelum kamu meminta izin…” (An-Nur 27)
Umar berkata, “apakah lebih baik disisimu kalau aku memaafkanmu?” Lelaki tersebut menjawab, “ya”. Lalu Umar pun memaafkannya dan pergi dari rumah tersebut.
Sekarang tengoklah tingkah laku kita. Bukankah Kita lebih suka mencari kesalahan saudara kita. Bila kita tak jumpai rekan kita di pengajian, kita tuduh dia sebagai orang yang melalaikan diri dari mengingat Allah. Ketika kali kedua, kita tak menemui saudara kita saat sholat jum’at, kita cap dia sebagai orang yang lebih mementingkan urusan dunia daripada urusan akherat. Ketika kali ketiga kita lihat dia duduk bersenda gurau dengan lawan jenisnya, mulai kita berpikir bahwa saudara kita tersebut telah terkunci mata hatinya.
Dengan tuduhan dan prasangka seperti itu, boleh jadi kita telah melakukan beberapa kali kesalahan yang lebih banyak dibanding saudara kita tersebut. Mari kita tanamkan sifat Khusnudhon (berprasangka baik) kepada orang lain.
***
Sentuhan Jiwa: Mata Air Hunain
Berapa pun kali kisah ini dibaca tetap saja, rasa haru menyeruak khususnya saat
Rasulullah memberikan tausyiah pada kaum Anshar yang merasa tak dihargai
perjuangannya. Saat kaum Anshar cemburu pada Rasulullah yang memberikan ghanimah
(harta rampasan perang) amat besar kaumnya (Quraisy) dibandingkan Anshar. Kebersihan
hati Kaum Anshar, keridhaan, pengorbanan dan kecintaan mereka atas keputusan
Rasulullah ini patut ditiru. Semoga kita dianugerahi hati dan keikhlasan seperti kaum
Anshar yang senantiasa menolong agama Allah tanpa pamrih kecuali cinta Allah dan
Rasul-Nya semata
**
Mata Air Hunain
Perang Badar baru saja selesai. Namun, peristiwa itu tidak mungkin hilang begitu saja
dari benak fikiran para sahabat. Ini karena Badar merupakan pengalaman mereka yang
pertama dalam keramaian genderang perang.
Ketika perang Hunain berakhir dengan kemenangan kaum muslimin, Rasulullah SAW dan
kaum muslimin mendapatkan harta rampasan perang yang melimpah. Perang ini berlaku
pada tahun ke-8 hijrah. Dengan penaklukan kota Mekah, kaum kuffar Arab akhirnya
bergabung, bersedia menyerang kaum muslimin. Bahkan, mereka turut membawa anak
isteri mereka juga harta benda yang mereka miliki. Perang yang akan merka tempuh
seolah-olah perang pertarungan harga diri sehingga mereka harus membawa semua yang
mereka miliki untuk berada dalam kafilah perang mereka.
Di pihak lain, kaum muslimin yang berjumlah 10 ribu orang anggota yang telah menyerbu
dan menakluk kota Mekah sudah bersiap sedia berangkat ke Hunain. Pasukan ini telah
pun ditambah dengan dua ribu orang mualaf, orang yang baru masuk Islam dari penduduk
Mekah. Sebuah penghormatan dan harga diri kadang kala menjadi suatu yang amat
berharga sehingga apaun yang dimiliki dapat dikerahkan untuk mendapatklan kembali
harga diri tersebut. Begitulah yang terjadi kepada orang-orang Arab yang merasa
kehormatannya diragut oleh umat Islam Madinah yang berhasil menduduki dan menakluk
kota Mekah.Puncak perjuangan kaum kuffar untuk kembali merebbut kehormatan dan
harga diri mereka adalah dengan menentang umat Islam.
Jumlah pasukan Islam yang banyak yang bersedia untuk berperang melawan kuffar Arab
iaitu dalam 12 ribu orang telah menimbulkan sikap ghurur (bangga diri) pada sebagian
kaum muslimin. Mereka beranggapan bahwa jumlah pasukan umat Islam yang besar akan
mudah mengalahkan pasukan kuffar Arab sehingga mereka meremehkan kekuatan musuh.
Penyakit ghurur ini menjadikan maknawiyah pasukan Islam menjadi kendur. Mereka
kurang bersandar kepada Allah sebagai sumber kekuatan. Hal ini karena secara
manusiawi mereka jauh lebih besar daripada pasukan musuh sehingga tidak terdorong
atau melupakan bahwa sumber kemenangan adalah daripada Allah SWT, sama seperti
maknawiyah kafir Quraisy ketika mereka menghadapi pasukan Islam di Badar. Akan
tetapi, mereka yang sudah ditempa dengan tarbiyah Rasulullah SAW tergerak dan segera
menyusun kembali barisan untuk menguasai keadaan sehingga pertempuran itu berakhir
dengan kemenangan.
Kemenangan kaum muslimin mendatangkan banyak harta rampasan perang dan tawanan,
6 ribu orang tawanan, 24 ribu unta, 40 ribu lebih kambing, dan 4 ribu lebih uqiyah perak.
Pembagian Harta Rampasan Perang
Ketika perang berakhir dan setelah beberapa lama Rasulullah menunggu kaum Hawazin
yang mungkin datang untuk menebus tawanan mereka di Ji'ranah. Rasulullah SAW
membagi-bagikan harta rampasan perang kepada para muallaf, pemuka Mekah yang
belum lama masuk Islam, dengan jumlah yang cukup besar untuk mengikat hati mereka.
Abu Sufyan diberi 40 uqiyah dan 100 ekor unta, kemudian Abu Sufyan ,meminta bagian
anaknya, Yazid. Rasulullah SAW meluluskan permintaan Abu Sufyan itu dengan
memberikan anaknya jumlah yang sama seperti yang beliau perolehi. Begitu juga dengan
anaknya yang bernam Mu'awiyah. Rasulullah SAW memberikannya dengan jumlah yang
sama. Kepada Hakim bin Hizam, Rasulullah SAW memberikan 100 ekor unta, kemudian
dia meminta lagi dan memberikannya tambahan 100 ekor lagi. Shafwan bin Umayyah
diberi 100 ekor unta, kemudian 100 ekor lagi, dan ditambah lagi dengan 100 ekor.
Al-Haritsah bin Al-Harits bin Kaladah diberi 100 ekor unta dan beberapa pemuka Quraisy
yang lain juga memperolehinya. Selain mereka, ada juga yang mendapat 50 ekor unta, 10
ekor unta, 5, 4, sehingga dikhabarkan bahwa Rasulullah memberikan setiap muallaf yang
meminta atau minta tambahan bagian dan baginda tidak takut miskin. Orang-orang Arab
berkerumun meminta bagian harta sampai baginda terdesak ke pohon pokok hingga baju
baginda terlepas. Baginda berkata, " Wahai kalian, kembalikan bajuku, demi Zat yang
diriku di tangan-Nya, andaikan aku memiliki tanaman di Tihamah, maka aku akan
memberikannya kepada kalian dan kalian tidak memanggilku sebagai orang kikir, takut,
dan berdusta".
Kemudian, bagindapun berdiri di samping unta miliknya sambil memegang sebiji gandum
dan bersabda, "Wahai manusia, demi Allah, aku tidak lagi menyisakan harta rampasan
kalian, termasuk biji gandum ini, kecuali seperlimanya dan seperlima itupun sudah aku
serahkan kepada kalian".
Setelah membagikan rampasan kepada para muallaf, kepada orang-orang yang baru
masuk Islam dan kepada orang yang hatinya masih lemah, Nabi Muhammad SAW
memanggil Zaid bin Tsabitagar mengumpulkan sisa harta rampasan perang serta
memanggil semua sahabat. Masing-masing sahabat mendapat 4 ekor unta dan 40 ekor
kambing. Untuk penunggang kuda, diberikan 12 ekor unta dan 120 ekor kambing.
Pembagian ini berdasarkan pertimbangan yang sangat matang dan bijaksana. Di dunia,
seseorang lebih mampu menerima kebenaran melalui perutnya daripada akalnya,
sebagaimana binatang yang digiring ke kandangnya dengan memancingnya melalui
dedaunan. Begitu juga manusia yang memerlukan variasi bujukan untuk menyusupkan
keimanan.
Komentar Terhadap Tindakan Rasulullah SAW
Tindakan dan langkah baginda tidak difahami oleh sebagian sahabat sehingga timbul
berbagai komentar yang tidak sedap didengar. Di antara sahabat yang tidak dapat
menerima tindakan Rasulullah SAW ini adalah orang-orang Ansar, padahal merekalah
yang paling banyak dilibatkan oleh Rasulullah pada saat-saat krisis hingga suasana
pertempuran yang mula kelihatan kalah menjadi sebaliknya dapat dikuasai keadaan.
Mereka tidak menerima bagian daripada harta rampasan perang Hunain.
Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, ia berkata, "Setelah Rasulullah SAW
membagi-bagikan bagian rampasan perang kepada orang-orang Quraisy dan kabilah-
kabilah Arab, sedangkan orang-orang Ansar tidak mendapat bagian apa-apa, maka
kemudian tersebarlah berita-berita di antara mereka, ada yang berkata, "Demi Allah,
Rasulullah SAW telah bertemu kaumnya sendiri".
Lalu Saad bin Ubadah datang ke tempat baginda seraya berkata, "Wahai Rasulullah, di
hati orang-orang Ansar ada perasaan tidak puas hati terhadap engkau karena pembagian
harta rampasan perang yang telah engkau lakukan. Engkau membagi-bagikannya kepada
kaum engkau sendiri dan engkau memberikan bagian yang amat besar kepada beberapa
kabilah Arab, sedangkan orang-orang Ansar itu tidak mendapat apa-apa".
Kemudian Rasulullah SAW bertanya, "Kalau demikian keadaannya, engkau berpihak
kepada siapa wahai Saad?" Saad pun menjawab, "Wahai Rasulullah, tidak ada pilihan lain
kecuali aku ikut bersama kaumku".
"Kalau begitu kumpulkan kaummu di tempat ini!" kata Rasulullah SAW kepada Saad.
Kemudian Saad mengumpulkan semua orang Ansar di tempat yang ditunjukkan
Rasulullah. Ada beberapa Muhajirin hendak ikut masuk, namun mereka tidak
diperkenankan masuk daan hanya orang-orang Ansar sahaja yang masuk ke dalam
tempat itu. Setelah semua orang Ansar telah berkumpul, maka Saad memberitahu Nabi
SAW dan baginda pun datang berjumpa dengan mereka.
Taujih Rasulullah SAW
Setelah memuji dan mengagungkan Allah, baginda bersabda, "Wahai kaum Ansar, aku
sempat mendengar berita-berita dari kalian dan dalam diri kalian ada perasaan tidak
puas hati terhadapku. Bukankah dulu aku datang ketika kalian dalam keadaan sesat dan
Allah memberikan petunjuk kepada kalian? Bukankah dahulu kalian adalah miskin lalu
Allah membuat kalian menjadi kaya dan hati kalian bersatu?"
Mereka menjawab, "Begitulah, Allah dan rasul-Nya lebih murah hati dan banyak
kurnianya".
"Apakah kalian tidak ingin memenuhi seruanku wahai orang Ansar?"
Mereka menjawab, "Dengan apa kami harus memenuhi seruanmu wahai Rasul? Segala
anugerah dan kurnianya hanyalah milik Allah dan Rasul-Nya".
Lalu baginda bersabda, "Demi Allah, jika kalian mahu, kalian perlu membenarkan dan
dibenarkan, maka kalian boleh katakan, "Engkau telah datang kepada kami ketika engkau
didustakan kaum engkau, kami menerima engkau. Ketika engakau dalam keadaan lemah,
kamilah yang menolong engkau. Ketika engkau diusir, kamilah yang memberikan tempat.
Ketika engkau dalam keadaan papa, kamilah yang menampung engkau".
Setelah mengingatkan orang-orang Ansar bahwa mereka lebih berjasa kepada Rasulullah
SAW dari orang-orang Quraisy, baginda kemudian bersabda, "Apakah di dalam hati kalian
masih terdetik hasrat kepada dunia yang dengan keduniaan itu sebenarnya aku hendak
mengambil hati segolongan orang agar masuk Islam. Sementara terhadap keislaman
kalian aku tidak lagi meragukannya? Wahai sahabat Ansar, apakah di hati kalian tidak
berkenan jika mereka membawa pulang kambing dan unta, sedangkan kalian pulang
bersama Rasulullah ke tempat tinggal kalian?"
Demi Zat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, kalau bukan karena hijrah, tentu aku
termasuk golongan Ansar. Jika para sahabat menempuh suatu jalan di celah gunung dan
orang-orang Ansar menempuh suatu celah yang lain, tentu aku akan memilih celah yang
dilalui oleh orang Ansar. Ya Allah, rahmatilah orang-orang Ansar, anak-anak Ansar, dan
cucu orang-orang Ansar".
Setelah mendengar taujih dari Rasulullah SAW yang mengajak mereka mendahulukan
akhirat dan nikmat yang besar, mereka pun menitiskan air mata hingga janggut mereka
basah lembab dengan air mata sambil berkata, "Kami redha tindakan Rasulullah dalam
urusan bagian dan pembagian. Setelah itu, mereka puas dan kembali ke tempat mereka
semula".
Renungan Peristiwa Hunain
Kejadian pembagian rampasan perang ini merupakan tarbiyah bagi para sahabat. Kadang
kala ketika kita merasa sudah banyak berbuat untuk dakwah, maka kita merasa bahwa
kita berhak atas semua keuntungan duniawi dari dakwah. Oleh itu, seperti kejadian
Hunain, sebagian sahabat merasa bahwa mereka lebih berhak atas rampasan perang
Hunain dibandingkan dengan orang-orang Quraisy yang baru masuk Islam ketika Fath Al-
Makkah.
Ketika hati kita dipenuhi dengan rasa protes karena kita merasa bahwa jasa kita tidak
dihargai, maka prasangka pun akan menghinggapi hati kita sehingga dugaan buruk
terhadap lain menguasai kita, seperti yang berlaku kepada orang-orang Ansar pada
peristiwa pembagian harta rampasan perang.
Yang lebih berbahaya adalah jika kekecewaan atas tindakan itu menular kepada orang
lain sehingga suasana ukhrawi tidak terlihat. Yang ada sebaliknya, ejekan disebabkan
kekecewaan dan tidak puas hati terhadap qiyadah. Jika keadaan ini tidak cepat
diselesaikan dengan penjelasan-penjelasan oleh pihak qiyadah, maka tidak mustahil
keadaan ini akan bertambah parah menjadi pergaduhan atau perpecahan.
Di pihak yang lain, sebagai seorang qiyadah, Rasulullah SAW menyedari bahwa tidak
seluruh landasan tindakannya diketahui oleh para sahabat. Oleh itu, baginda berinisiatif
untuk menjelaskan i'tibarat, dan konsider kepada para tentera. Ini perlu cepat dilakukan
agar keadaan tidak bertambah teruk. Semakin cepat akan semakin baik, kecuali jika ada
program atau rancangan yang lebih efektif untuk menyelesaikan keadaan seperti itu.
Kejadian Hunain telah berlalu sekian lama, tetapi pelajaran dan hikmah yang dapat
diambil sentiasa mengalir bagai air dari pergunungan yang dapat menyegarkan dan
menghilangkan rasa haus generasi penerus perjuangan. Mudah-mudahan Allah masih
membuka hati kita agar kita dapat melihat sesuatu dengan benar dan hati pun tidak
terfitnah, terjangkit penyakit dari keadaan yang sam,a dengan keadaan yang dialami
oleh sahabt-sahabat Ansar pada masa-masa pertama perjuangan Islam.
Wallahu a'lam.
Tak Ada Jalan Untuk Maksiat
Ibrahim bin Adham bercerita bahwa ia pernah didatangi seorang laki-laki yang berkata
kepadanya: "Wahai Abu Ishak (Ibrahim bin Adham)! Saya seorang yang banyak berdosa,
seorang yang dzalim. Sudikah kiranya Tuan mengajari saya hidup zuhud, agar Alloh
menerangi jalan hidup saya dan melembutkan hati saya yang kesat ini."
Ibrahim bin Adham menjawab, "Kalau kau dapat memegang teguh enam perkara berikut
ini, niscaya engkau akan selamat."
"Apa itu?" Tanyanya.
"Pertama, bila engkau bermaksiat, janganlah engkau memakan rizki Alloh."
"Jika di seluruh penjuru bumi ini, baik di barat maupun di timur, didarat maupun di laut,
di kebun dan di gunung-gunung, ada rizki Alloh, maka dari mana aku makan?"
"Wahai Saudaraku, pantaskah engkau memakan rizki Alloh, sementara engkau melanggar
peraturan-Nya?"
" Tidak, demi Alloh! Lalu, apa yang kedua?"
"Kedua, bila engkau bermaksiat kepada Alloh, janganlah engkau tinggal di negeri-Nya!"
Lelaki itu menukas, "Tuan Ibrahim, demi Alloh yang kedua ini lebih berat.bukankah bumi
ini milik-Nya? Kalau demikian halnya, dimana aku harus tinggal?"
"Patutkah engkau makan rizki Alloh dan tinggal di bumi-Nya padahal engkau melakukan
maksiat kepada-Nya?"
"Tidak, Tuan Guru!"
"Ketiga, jika engkau hendak berbuat maksiat, janganlah engkau lupakan Alloh yang Maha
Melihat dan beranggapanlah bahwa Dia lalai kepadamu!"
"Tuan Guru, bagaimana mungkin bisa begitu, padahal Alloh Maha Mengetahui segala
rahasia dan melihat setiap hati nurani."
"Layakkah engkau menikmati rizki-Nya, tinggal di bumi-Nya dan maksiat kepada-Nya
sedangkan Alloh melihat dan mengawasimu?"
"Tentu saja tidak, wahai Tuan Guru.Lantas apa yang keempat?"
"Apabila datang kepadamu malaikat maut, hendak mencabut nyawamu, maka katakan
kepada malaikat itu, tunggulah dulu, aku akan bertobat."
Lelaki itu menjawab, "Tuan Guru, itu tidak mungkin dan ia tak mungkin mengabulkan
permintaanku."
Ibrahim bertutur, "Kalau engkau sadar bahwa engkau tak mungkin mampu menolak
keinginannya, maka tentu ia akan datang kepadamu kapan saja, mungkin sebelum
engkau bertobat."
"Benar ucapan Guru! Sekarang apa yang kelima?"
"Kelima, bilamana datang mungkar dan Nakir kepadamu, lawanlah kedua malaikat itu d
engan seluruh kekuatanmu, bila kau mampu."
"Itu tidak mungkin, mustahil Tuan Guru."
Ibrahim bin Adham kemudian melanjutkan, " Keenam, bila esok engkau berada di sisi
Alloh SWT, dan Alloh menyuruhmu masuk neraka, katakanlah: Ya Alloh, aku tidak
bersedia."
"Wahai Tuan Guru, cukuplah. Cukuplah nasihatmu!" Jawab lelaki itu, dan iapun pergi
Senang di Dunia, Senang di Akhirat
Hampir setiap malam, di teras rumah yang berada di depan rumah saya -maksud saya:
rumah kontrakan saya- di daerah pinggiran Jakarta, beberapa pemuda selalu menghabiskan
waktu selama beberapa jam untuk bersenang-senang: menikmati lintingan ganja. Duduk
melingkar sambil membicarakan apa saja.
Wajah-wajah mereka kusam. Mata di wajah mereka merah. Suara-suara mereka terdengar
berat khas orang mabuk. Terkadang tertawa terbahak-bahak. Kencang. Dalam kondisi seperti
itu tentu saja mereka tidak bisa diharapkan untuk memahami suasana. Justru kami -saya dan
beberapa penghuni kontrakan lain, para pendatang- seolah-olah yang diharuskan memahami
kesenangan para pemuda setempat itu.
Membiarkan mereka meski kegaduhan mereka terkadang mengganggu. Apalagi rumah yang
terasnya mereka tempati untuk nongkrong, penghuninya adalah keluarga muda yang memiliki
bayi baru berumur sekian bulan. Mungkin, para pemuda itu berpikir: kami tidak akan berbuat
macam-macam jika kalian membiarkan kami menikmati kesenangan kami. Padahal dengan
seperti itu pun mereka sudah berbuat macam-macam.
Mereka akan bubar jika lintingan-lintingan ganja itu telah habis. Set
elah itu mereka melanjutkan dengan kesenangan yang lain, yaitu bermain remi sambil berjudi
kecil-kecilan, sampai dini hari. Hampir setiap hari mereka seperti itu. Kecuali jika mereka
kehabisan 'bekal'. Untuk beberapa hari, teras rumah yang berada di depan rumah saya itu
akan sepi. Setelah bekal kembali terkumpul, mereka pun melanjutkan kesenangan mereka.
Setiap kali melihat para pemuda itu menikmati kesenangan mereka, saya selalu teringat kisah
dalam al-Risslah al-Qusyayriyyah fi 'Ilm al-Tashawwuf, sebuah kitab tentang tasawuf yang
telah berusia lebih dari seribu tahun karya Abu Qasim al-Qusyairi.
Suatu ketika, seorang sufi bernama Ma'ruf al-Kurkhi sedang duduk-duduk bersama murid-
muridnya. Kemudian, lewatlah rombongan yang tampaknya sedang merayakan sesuatu.
Mereka memainkan alat-alat musik dan bernyanyi-nyanyi sambil meminum minuman keras.
"Lihatlah orang-orang itu," kata salah seorang muridnya. "Mereka berbuat maksiat secara
terang-terangan. Mereka tidak malu kepada Tuhan. Maka, apalagi kepada sesama manusia."
"Doakanlah mereka agar celaka," kata si murid kepada Ma'ruf.
Di mana-mana, guru akan selalu lebih bijak daripada murid-muridnya. Sebab itulah orang
Jawa mengatakan, 'guru' adalah singkatan dari 'digugu lan ditiru' yang artinya 'dituruti dan
diteladani'. Jika ada orang yang dianggap guru tapi tak berperilaku selayaknya guru, sehingga
tak patut digugu lan ditiru, ia akan tetap menjadi guru, hanya saja dengan singkatan yang
berbeda, yaitu 'guru' singkatan dari 'wagu tur saru' yang artinya 'tak pantas dan cabul'.
Ma'ruf al-Kurkhi kemudian mengangkat tangannya. Ia berdoa, "Ya Tuhanku! Seperti mereka
bisa bersenang-senang di dunia ini, buatlah mereka bisa bersenang-senang di akhirat nanti."
"Kami tidak memintamu berdoa seperti itu," kata si murid.
Ma'ruf al-Kurkhi menjawab, "Jika di akhirat kelak mereka bisa bersenang-senang, artinya
Tuhan mengampuni maksiat mereka di dunia."
Ma'ruf ingin mengajarkan kepada para muridnya bahwa dunia adalah tempat kemungkinan-
kemungkinan. Apa yang tampak buruk tidak selalu akan berakhir tetap dalam kondisi buruk.
Sebab itu, ia tak perlu dikutuk.
Itulah yang disebut dengan al-raja' dalam ilmu tasawuf, yaitu mengharap segala sesuatu
menjadi baik, atau berakhir dengan kebaikan. Orang yang menjaga al-raja' dalam dirinya
tidak akan pernah merasa puas dengan kebaikan, dan sebab itu ia tidak mengutuk keburukan,
tapi berharap keburukan itu akan menjadi atau berakhir dengan kebaikan.
Al itsar
Al itsar atau mengutamakan orang lain adalah tindakan yang disunahkan oleh Rasulullah
SAW. Perilaku ini merupakan wujud persaudaraan sejati sesama Muslim. Itsar memiliki
nilai yang mulia di sisi Allah.
Suatu ketika ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW. Ia bermaksud meminta
bantuan kepada Nabi karena sedang dalam kesusahan. Rasulullah kemudian menyuruh
laki-laki itu untuk menemui salah satu istrinya. Maka istri Rasul berkata, "Demi Allah
yang telah mengutusmu dengan hak, aku tidak mempunyai apapun kecuali air."
Mendengar itu, Rasul menyuruh laki-laki itu kepada istri beliau yang lain. Ternyata,
hasilnya sama. Istri Rasulullah hanya punya air.
Rasul kemudian bersabda di hadapan para sahabat, "Siapa yang mau menjamu tamu
pada malam ini?" Seorang laki-laki dari kaum Anshar menyanggupinya. "Aku, ya Rasul."
Orang Anshar ini lalu membawa laki-laki tersebut ke rumahnya.
Sesampai di rumah ia berkata kepada istrinya, "Wahai istriku, muliakanlah tamu
Rasulullah ini. Apakah engkau punya sesuatu?" Istrinya menjawab, "Tidak, kecuali
makanan anak-anak kita."
Mendengar jawaban istrinya, orang Anshar ini tidak lantas mengusir sang tamu. Ia
berpesan kepada istrinya, "Hiburlah mereka (anak-anaknya). Jika mereka mau makan
malam maka tidurkanlah. Jika tamu kita sudah masuk, matikanlah lampu dan perlihatkan
kepadanya seolah-olah kita sedang makan."
Tamu itu pun datang. Mereka semua duduk. Tamu itu pun makan dalam keadaan gelap.
Orang Anshar dan istrinya menemani sang tamu, seolah-olah sedang makan pula.
Akhirnya sahabat Anshar dan istrinya itu tidur dalam keadaan lapar.
Ketika waktu Subuh, sahabat Anshar ini menemui Rasulullah SAW dan menceritakan
perbuatannya. Nabi pun berkata, "Allah sungguh takjub karena perbuatan engkau
bersama istrimu tadi malam pada saat menjamu tamu." (Mutafaq alaih)
Alangkah indah jika karakter itsar muncul sekarang. Apalagi banyak anggota masyarakat
yang mengalami kesusahan hidup. Itsar mendorong kita untuk mau menekan ego dan
mengorbankan kepentingan pribadi demi orang lain.
Memang tidak bisa dimungkiri, kini justru karakter mementingkan diri sendiri yang
mendominasi kehidupan kita. Namun, bukan berarti itsar tidak bisa kita lakukan. "... Dan
barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya...." (QS Saba [34]:
39).
KESEJAHTERAAN HIDUP BOLEH DICARI, ASALKAN.....
Seorang arif melihat setan dalam keadaan telanjang di tengah-tengah masyarakat.
"Hai makhluk yang tak punya malu, mengapa kamu telanjang di hadapan manusia?" tegur
sang arif.
"Mereka bukan manusia, mereka kera."
Sesungguhnya sudah sejak lama Al-Ghazali menulis dalam Ihya`, Dzahaban naas wa
baqiyan nasnaas (Telah pergi manusia, yang tertinggal hanya kera)
"Jika kamu ingin melihat manusia, ikutlah aku ke pasar," lanjut sang setan.
Orang arif itu lalu pergi bersama setan ke pasar. Sesampainya di pasar, setan itu
menjelma seorang laki-laki dan langsung menuju ke toko yang paling besar. Toko itu
hanya menjual permata yang berkualitas tinggi dengan harga yang amat mahal.
"Coba lihat permata itu," kata setan kepada pemilik toko sambil menunjuk permata yang
paling besar.
Pemilik toko mengambil permata itu lalu menyerahkannya kepada setan. Ketika permata
berpindah ke tangan setan, pemilik toko mendengar muadzin menyerukan: hayya `alash
sholaah (Marilah salat) Pemilik toko segera mengambil kembali permatanya.
"Kamu pasti setan. Tak ada yang datang pada waktu seperti ini kecuali setan," kata
pemilik toko.
Kemudian ia mengusir si setan. Setelah setan pergi, ia lalu menghancurkan permata itu
dengan batu.
"Permata ini tidak ada berkahnya," kata pemilik toko. Kemudian ia keluar untuk salat.
Allah berfirman:
"Laki-laki yang perniagaan dan jual beli tidak dapat melalaikannya dari mengingat Allah."
(QS An-Nur, 24:37)
Dalam surat Al-Muzzammil, Allah menyejajarkan para pedagang dengan orang-orang yang
berjihad di jalan Allah.
Dan orang-orang yang berjalan di bumi mencari sebagian karunia Allah, dan orang-orang
lain yang berperang di jalan Allah. (QS Al-Muzzammil, 73:20)
Perdagangan untuk mencari kesejahteraan di dunia tidaklah tercela. Sebaik-baik urusan
dunia adalah yang dapat menjadi tunggangan menuju akhirat. Adapun yang tercela
adalah jika kita selalu tenggelam dalam urusan keduniaan, hati kita selalu terikat pada
dunia sehingga kita melalaikan hak-hak dan perintah-perintah Allah. Yang terpuji adalah
hidup sederhana, tidak berlebih-lebihan. Hidup berlebih-lebihan membuat seseorang
terlambat masuk surga.
Seorang bermimpi melihat Malik bin Dinar berlomba-lomba dengan Muhammad bin Wasi'
menuju surga. Ia menyaksikan bahwa Muhammad bin Wasi` akhirnya dapat mendahului
Malik bin Dinar. Orang itu kemudian bertanya mengapa demikian kejadiannya, karena
menurut perkiraannya Malik bin Dinar bakal menang. Kaum salihin menjawab bahwa
ketika meninggal dunia Muhammad bin Wasi' hanya meninggalkan sepotong pakaian,
sedang Malik meninggalkan dua potong pakaian.
Jika seorang arif seperti Malik bin Dinar dapat tertinggal hanya karena pakaian, lalu
bagaimana dengan kita. Lemari kita penuh dengan pakaian, dan kita pun masih merasa
belum cukup.
Ya Allah, jadikanlah kami puas
dengan rezeki yang Engkau karuniakan.
Berkahilah apa yang telah Engkau berikan.
Dan jangan jadikan (bagi kami) dunia sebagai
puncak perhatian dan pengetahuan. (I:511)
Habib Muhammad bin Hadi bin Hasan bin Abdurrahman Asseqaf, Tuhfatul
Asyraf, Kisah dan Hikmah
Langganan:
Postingan (Atom)