Selasa, 02 April 2013

Jumlah Bukan Segalanya



Dalam islam, Jumlah bukanlah penentu segala galanya. Betapa banyak, golongan
yang lebih kecil mengalahkan golongan yang lebih besar. Peristiwa peristiwa
sejarah dan kegemilangan islam masa lampau,menunjukkan betapa umat islam yang
berjumlah kecil, bisa mengalahkan pasukan musuh yang berjumlah lebih besar
bahkan jauh berlipat lipat. Siapa yang menyangsikan kekuatan iman para sahabat ?
Siapa yang menyangsikan kelurusan tauhid dan ketinggian para sahabat yang mulia
? Rupanya disinialah kuncinya pertolongan ALLAH.Ketika keimanan sangat tinggi,
keyakinan akan pertolongan Allah begitu besar dan tidak bergantung kepada selain
Allah, kekuatan pasukan muslim menjadi berlipat ganda. Allah menurunkan
pasukannya dan menggentarkan hati hati musuh musuh islam sehingga dapat kita
lihat bagaimana di Badar kaum kafir Qura’is terkalahkan.

Dalam sejarah sejarah islam terdahulu, sungguh kita dapati bagaimana generasi
terbaik umat ini berjuang untuk menegakkan agama islam. Sebagian besar
peperangan yang dilaluinya jumlah pasukan kaum muslimin lebih kecil dari pada
musuh nya. Rupanya para sahabat memang tidak menganggap bahwa jumlahlah penentu
kemenangan. Bahkan dalam perang hunain, ketika seorang prajuruit merasa akan
menang karena jumlah mereka yang besar, ternyata pasukan islam malah kocar
kacir. Terbukti bahwa jumlah memang bukan penentu.

Bulan jumadil’ awal 8 H, rosulullah memberangkatkan 3000 orang pasukan ke
Syiria. Zaid bin haritsah ditunjuk sebagai panglima perang, dengan instruksi
jika Zaid gugur, penggantinya adalah Ja’far bin Abu Thalib. Jika Ja’far gugur
penggantinya adalah Abdullah bin Rawahah.

Sampai di daearah Ma’an kaum muslim mengetahui bahwa kekuatan musuh mencapai
200
ribu terdiri dari 100 ribu tentara Romawi dan 100 ribu orang Nasrani keturunan
Arab dari berbagai kabilah. Subhanallah, bagaimana 3000 orang akan melawan
200.000 pasukan? Logika saja mengatakan 1 orang harus menghadapi 1 : 60 – 70
Pasukan musuh.

Selama 2 hari kamu muslim bermusyawarah tentang kondisi yang mereka hadapi. Ada
yang mengusulkan agar mereka mengirimkan surat kepada Rosulullah, mereka
berharap rosulullah mengirimkan pasukan tambahan. Namun Abdullah bin Rawahah
tidak setuju dan berseru dengan semangat menyala “ Wahai manusia, apa yang tidak
kalian sukai dalam pertempuran ini, justru yang selama ini kalian cari yaitu
Syahid. Kita berperang bukan mengandalkan jumlah pasukan, kekuatan dan banyaknya
perlengkapan dan perbekalan. Kita perangi mereka demi agama ini yang karena
Allah memuliakan kita. Karena itu majulah terus dan raih satu dari dua kebaikan
: Menang atau Mati Syahid.” ( Ibnu Hisyam III/ 430 ).

Menggeloralah semangat kaum muslimin akan hal ini. Zaid Bin Haritzah membawa
pasukannya kedaerah yang terkenal dalam sejarah : Mu’tah. Disinilah pertempuran
3000 pejuang islam melawan 200 ribu pasukan musuh terjadi. Suasana pertempuran
begitu sengit, dan syahidlah Panglima perang Zaid Bin Haritzah terkena panah
pasukan romawi.

Bendera islam dipegang oleh Ja’far bin Abu Thalib. Pahlawan islam yang baru
kembali dari Habasyah ini berperang dengan gagah berani, sampai tangan kanannya
berhasil ditebas musuh. Ketika tangan kanan nya telah terputus, dipeganglah
bendera dengan tangan kiri. Begitu tangan kirinya putus, ditebas pedang musuh,
dikempitlah bendera tersebut dengan sisa lengannya. Akhirnya pahlawan ini
menemui robnya sebagai Syahid dengan tubuh terbelah dua dan lebih dari 70 luka
di tubuhnya.

Bendera dipunguit oleh Tsabit Bin Arqam dan diserahkan kepada Khalid Bin Walid,
yang kala itu belum genap 3 bulan memeluk islam.Khalid pun menolak dan berkata “
Anda lebih patut memegangnya. Anda lebih tua dan telah ikut perang Badar” Jawab
Khalid Bin Walid. “ Ambillah, hai laki laki. Demki Allah, aku mengambil bendera
ini hanya karena akan kuberikan kepadamu. Jawab Tsabit.” Akhirnya Pasukan islam
yang sedang terdesak ini dipimpin oleh Khalid Bin Walid. Rupanya khalid Bin
Walid memang sangat ahli dalam strategi perang dan seorang panglima perang yang
sangat brilian baik sebelum apalagi setelah menjadi seorang mukmin. Diaturlah
strategi baru, pasukan yang semula berada di depan dialihkan kebelakang juga
sebailiknya. Demikian juga pasukan Sayap kanan dialihkan ke kiri dan sebaliknya.
Strategi luar biasa ini membuat musuh terkecoh, mengira pasukan islam mendapat
tambahan pasukan. Perlahan lahan, pasukan islam yang awalnya dalam kondisi
terancam bisa
diselamatkan. Diakhir peperangan pasukan islam yang gugur hanya 13 orang. Buku
buku sejarah , Tidak memberikan angka pasti berapa besar jumlah korban dari
pasukan romawi.

Betapa yang kecil tidak selalu terkalahkan dengan yang besar. Dalam perang
Mu’tah ini, banyak sekali ibroh yang bisa diambil, bahwa kekuatan iman memegang
peranan yang begitu besar. Jika kondisi islam saat ini yang jumlahnya begitu
besar saja justru terpuruk,sudah seharusnya kita merenungkan dan mengambil
sebuah pelajaran, mungkinkah kebesaran islam akan kembali dengan meminta
bantuan dari musuh musuh islam yang seolah olah sangat baik membantu kita ?
Mungkinkah kejayaan islam akan kembali tanpa kita memiliki rasa bangga terhadap
islam dan lebih mencintai system islam daripada system buatan manusia ? Kita
lihat, Sejak 1948, Tel Aviv menjadi ibukota Israel, dengan tangisan ratusan juta
umat islam dan senyum kemenangan Israel dan presiden AS Hennry Truman saat itu,
Tahun 67 Dataran tinggi Golan, Sinai , diambil Israel,tahun 81 pembantaian besar
besaran di Kamp pengungsi Sabra & Shatilla dan beribu permasalahan yang tiada
habisnya karena pendudukan
Yahudi, Namun kini sebentar lagi Presiden Palestina Dan Israel akan berunding ,
duduk manis dengan Wasit Amerika. Mungkinkah dalam pertandingan sepakbola,
seorang wasit adalah keluarga dari pemain musuh ?

Kini jumlah kita sangat besar saudaraku. Namun dari jumlah yang besar ini, besar
pula pengekor, yang sangat bangga dengan mengikuti budaya Barat. Dari jumlah
yang besar ini, entah berapa banyak yang bangga dengan agamanya, entah berapa
banyak yang ridho dengan syari’at islam, entah berapa yang banyak yang
merindukan Syari’at islam tegak di bumi ini. Jumlah yang besar sesungguhnya
merupakan potensi, tinggal bagaimana umat ini bersatu dalam dakwah dengan
pemahaman yang benar. Manjadikan Al Qur’an dan sunnah sebagai pedoman. Dengan
inilah Allah memberikan kabar gembira Nasrumminallah wa fatkhunqorib.

Apalagi sauadaraku, dimanapun posisi kita marilah kita menjadi bagian dalam
dakwah untuk meninggikan kalimat Allah..Dikantor, dirumah, lewat tulisan, lewat
perbuatan bahkan jika mampu dengan lisan atau tangan kita Tidak salah jika
seorang penyair mengatakan, umat islam memang sudah seharusnya ada yang terbang
tinggi seperti burung, namun perlu juga ada yang merayap seperti cacing.

Semoga bermanfaat, mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.



KESEDERHANAAN DALAM KEMAKMURAN




       
Pada masa Rasulullah memimpin masyarakat Madinah, selaku orang besar ia justru paling
melarat, walaupun warga Madinah hidup berkecukupan.

Pada suatu hari, ketika Rasulullah mengimami Shalat Isya berjamaah, para sahabat yang
jadi makmum dibuat cemas oleh keadaan nabi yang agaknya sedang sakit payah.
Buktinya, setiap kali ia menggerakkan tubuh untuk rukuk, sujud dan sebagainya, selalu
terdengar suara keletak-keletik, seakan-akan tulang-tulang Nabi longgar semuanya.

Maka, sesudah salam, Umar bin Khatab bertanya,"Ya, Rasullullah, apakah engkau sakit?".
"Tidak, Umar, aku sehat," jawab Nabi.

"Tapi mengapa tiap kali engkau menggerakkan badan dalam shalat, kami mendengar
bunti tulang-tulangmu yang berkeretakan?".

Mula-mula, Nabi tidak ingin membongkar rahasian. Namun, karena para sahabat
tampaknya sangat was-was memperhatikan keadaannya, Nabi terpaksa membuka
pakaiannya. Tampak oleh para sahabat, Nabi mengikat perutnya yang kempis dengan
selembar kain yang didalamnya diiisi batu-batu kerikil untuk mengganjal perut untuk
menahan rasa lapar. Batu-batu kerikil itulah yang berbunyi keletak-keletik sepanjang Nabi
memimpin shalat berjamaah.

Serta merta Umar pun memekik pedih, "Ya, Rasulullah, apakah sudah sehina itu
anggapanmu kepada kami? Apakah engkau mengira seandainya engkau mengatakan
lapar, kami tidak bersedia memberimu makan yang paling lezat? Bukankah kami
semuanya hidup dalam kemakmuran?".

Nabi tersenyum ramah seraya menyahut, "Tidak, Umar tidak. Aku tahu, kalian, para
sahabatku, adalah orang-orang yang setia kepadaku. Apalagi sekedar makanan, harta
ataupun nyawa akan kalian serahkan untukku sebagai rasa cintamu terhadapku, tetapi
dimana akan kuletakkan mukaku dihadapan pengadilan Allah kelak di Hari Pembalasan,
apabila aku selaku pemimpin justru membikin berat dan menjadi beban orang-orang
yang aku pimpin?".

Para sahabat pun sadar akan peringatan yang terkandung dalam ucapan Nabi tersebut,
sesuai dengan tindakannya yang senantiasa lebih mementingkan kesejahteraan umat
daripada dirinya sendiri.

Seorang tabib yang dikirim oleh penguasa Mesir, Muqauqis, sebagai tanda persahabatan,
selama dua tahun di Madinah sama sekali menganggur. Menandakan betapa kesehatan
penduduk Madinah betul-betul berada pada tingkatan yang tinggi. Sampai tabib itu bosan
dan bertanya kepada Nabi, "Apakah masyarakat Madinah takut kepada tabib?"
Nabi menjawab, "Tidak. Terhadap musuh saja tidak takut, apalagi kepada tabib".
"Tapi mengapa selama dua tahun tinggal di Madinah, tidak ada seorang pun yang pernah
berobat kepada saya?"

"Karena penduduk Madinah tidak ada yang sakit," jawab Nabi.
Tabib itu kurang percaya, "Masak tidak ada seorang pun yang mengidap penyakit?".
"Silakan periksa ke segenap penjuru Madinah untuk membuktikan ucapanku,"ujar Nabi.
Maka tabib Mesir itu pun melakukan perjalanan kelililng Madinah guna mencari tahu
apakah benar ucapan Nabi tersebut. Ternyata memang di seluruh Madinah ia tidak
menjumpai orang yang sakit-sakitan.

Akhirnya, ia berubah menjadi kagum dan bertanya kepada Nabi, "Bagaimana resepnya
sampai orang-orang Madinah sehat-sehat semuanya?"
Rasulullah menjawab, "Kami adalah suatu kaum yang tidak akan makan kalau belum
lapar. Jika kami makan, tidaklah sampai terlalu kenyang. Itulah resep untuk hidup sehat,
yakni makan yang halal dan baik, dan makanlah untuk takwa, tidak sekedar memuaskan
hawa nafsu".

Kejujuran




Sebagian orang tua mengatakan, "Kami kasihan kepada anak-anak kami, jika kami
membebani mereka dengan kegiatan ini....karena masih sangat kecil." Tatkala
mendengar kata yg bernada keberatan ini, Syaikh Ibnu Zhafar Al-Makki berkata, "Tatkala
telah mampu menghafal ayat :Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah untuk
bersembahyang di malam hari, kecuali sedikit daripadanya (QS.Al-Muzammil [73]:1)

Abu Yazid Thaifur Ibn Isa Al-Basthami berkata kepada ayahnya, "Wahai ayahku, kepada
siapakah Allah berkata dalam ayat ini?"

Sang Ayah berkata,"Kepada Nabi"

Sang anak bertanya, "Wahai ayahku, mengapa engkau tidak berbuat seperti apa yg
diperbuat Nabi?"

Sang Ayah berkata, "Wahai anakku, shalat malam hanya dikhususkan bagi Nabi saw,
hanya wajib bagi beliau bukan umatnya."

Sang anak terdiam. Tatkala telah menghafal ayat :"Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui
bahwa kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua per tiga malam, atau seperdua malam
atau sepertiganya dan demikian pula segolongan dari orang-orang yg bersama kamu (QS.
Al-Muzammil [73]:20), sang anak berkata kepada ayahnya, "Wahai ayah, aku mendengar
bahwa segolongan orang menjalankan shalat malam, siapakah mereka?"

Sang ayah menjawab, "mereka adalah para sahabat."

Sang anak bertanya, "Wahai ayah, apakah baiknya meninggalkan sesuatu yg dilakukan
oleh Rasulullah saw dan para sahabatnya?"

"Kamu benar, wahai anakku" timpal sang ayah. Dan sejak saat itu, sang ayah mulai
terbiasa bangun malam dan menjalankan shalat. Pada suatu malam, Abu Zaid terbangun
dan melihat ayahnya shalat. Ia pun berkata kepada ayahnya,

"Wahai ayah, ajarilah aku bagaimana cara berwudhu dan shalat bersamamu!"

"Wahai anakku, tidurlah, engkau masih kecil!!"

"Wahai ayah, jika pada suatu saat manusia keluar dari kubur dalam keadaan bermacam-
macam, supaya diperlihatkan kepada mereka balasan pekerjaan mereka, maka aku akan
berkata kepada Tuhanku, "Sesungguhnya aku telah berkata kepada ayahku, "wahai ayah,
ajarilah aku bagaimana cara berwudhu dan shalat bersamamu!" lalu ayah mengabaikan
permintaanku, setelah itu ayah berkata, "wahai anakku, tidurlah, engkau masih kecil!!".
Apakah ayah suka jika aku berkata seperti ini kepada Tuhan?"

Maka sang ayahpun berkata, "Tidak!! Demi Allah, aku tidak suka engkau berkata seperti
itu kepada Tuhan." Maka sejak saat itu, sang ayah mengajari anaknya shalat dan setelah
itu, sang anak terbiasa shalat bersama ayahnya.

Di Mana Allah




Alkisah, ada seorang pemuda yang bekerja sebagai penggembala domba. Jumlah domba
yang dia gembalai berjumlah ratusan ekor. Bertahun-tahun dia bekerja tanpa pernah
mengeluh meski hasil jerih payahnya tak seberapa.

Suatu ketika, datang seorang musafir yang sangat kehausan setelah menempuh
perjalanan jauh. Melihat ada pengembala domba tersebut, gembiralah hati musafir itu.
Sang musafir meminta minum kepada si pemuda penggembala tersebut. Namun, pemuda
itu menjawab bahwa dirinya tak punya air minum untuk diberikan kepada si musafir.
Musafir tersebut kemudian memohon memelas agar diizinkan mengambil air susu dari
seekor domba yang digembalakan si pemuda itu. Pemuda tersebut menolak dengan
halus. “Ayolah, saudaraku. Tolonglah aku. Aku sangat haus. Izinkan aku untuk memerah
dombamu sekadar beberapa teguk untuk menghilangkan dahagaku,” ujar sang musafir.
Pemuda itu menjawab, “Domba-domba ini bukan kepunyaanku, aku tak berani
mengizinkan engkau sebelum majikanku mengizinkannya.”

Pemuda mengatakan, “Kalau kau mau, tunggulah di sini sebentar. Kucarikan telaga dan
kuambilkan air untukmu, saudaraku.” Kemudian, pergilah pemuda tersebut mencarikan
air untuk sang musafir. Setelah dapat, diberikannya air itu kepada si musafir.
“Alhamdulillah, segar sekali rasanya,” kata sang musafir. “Terima kasih wahai anak
muda,” lanjut musafir itu.
Kemudian, mereka sejenak beristirahat sambil berbagi kisah. Siang semakin terik.
“Mengapa kau tadi tidak ikut minum,” tanya musafir kepada pemuda tadi. “Maaf, saya
sedang berpuasa,” jawab si pemuda. Musafir itu tercengang mendengar pengakuan
pemuda tersebut. “Matahari semakin tinggi, sedangkan engkau berpuasa?” tanya musafir
itu penuh tanya. Pemuda itu menjawab, “Aku berharap kelak mudah-mudahan Allah
menaungi diriku pada saat hari kiamat nanti. Karena itu, aku berpuasa.”

Rasa kagum dan penasaran membuat si musafir ingin mengetes keimanan sang pemuda
penggembala tersebut. Lalu, musafir itu berkata, “Hai anak muda, bolehkah aku membeli
seekor saja dombamu. Aku lapar, tolonglah aku.”

“Maaf tuan, aku tidak berani sebelum mendapat izin dari majikanku,” kata pemuda itu.
“Ayolah anak muda. Domba yang kau gembalakan sangat banyak. Tentulah tuanmu tidak
akan mengetahui meski kau jual seekor saja. Perutku sangat lapar, tolonglah aku,” rayu
musafir tersebut.

“Aku sungguh ingin menolongmu. Kalau saja aku memiliki makanan, tentu akan
kuberikan untukmu, tuan. Tapi, tolong jangan paksa aku untuk melakukan hal yang tak
mungkin aku lakukan tuan,” ucap pemuda tersebut.

“Tidak akan ada yang tahu hai anak muda. Kuberikan seribu dirham untukmu untuk
seekor domba saja. Ayolah. Tidakkah kau kasihan kepadaku?” kata musafir itu yakin
bahwa pemuda tersebut akan goyah dengan suap seribu dirham.
Musafir itu terus memaksa si pemuda untuk menjual seekor dombanya. Bahkan, musafir
itu tambah gusar dan marah.

Akhirnya, pemuda itu berkata, “Majikanku bisa saja tidak tahu jikalau aku menjual
seekor dombanya. Sebab, jumlahnya sangat banyak. Dan mungkin saja, majikanku tidak
akan menanyakan domba-dombanya. Dia tidak akan rugi meski aku menjual seekor di
antara domba kepunyaanya. Tapi, kalau aku berbuat begitu, lalu di mana Allah? Di mana
Allah? Di mana Allah? Sungguh, aku tak mau di dalam dagingku tumbuh duri neraka
karena uang yang tidak halal bagiku.”

Pemuda itu menangis karena takut tergoda berbuat sesuatu yang dimurkai Allah. Dia
menangis karena kecintaanya kepada Allah.
Musafir tersebut tertegun. “Allahu akbar!!” musafir itu ikut menangis.
“Katakan padaku wahai anak muda, di mana majikanmu tinggal. Aku ingin membeli
seekor dombanya,” kata musafir tersebut.

Setelah mendapat jawaban tentang tempat tinggal majikan pemuda tadi, musafir itu
memberikan uang seribu dirham tadi kepada si pemuda. “Terimalah uang ini untukmu,
anakku. Ini uang halal. Kau pantas mendapatkan lebih daripada ini. Hatimu begitu
mulia.” Sang musafir yang tak lain adalah Khalifah Umar bin Khattab bergegas menuju ke
rumah majikan sang pemuda tadi. Lalu, ditebuslah pemuda itu dengan
memerdekakannya dari status hamba sahaya.

Dalam lanjutan perjalanannya, Umar masih takjub dengan kisah yang baru dia alami.
Di mana Allah? Inilah kalimat yang menggetarkan hati Umar. Rasa takut kepada Allah
tidak menggoyahkan iman seorang pemuda tadi meski dirayu dengan materi. Duniawi
tidak mampu menyilaukan hati pemuda itu karena keteguhan iman yang hakiki

Tindakan Kita Sebatas Kita Memandang Dunia




Bila anda memandang diri anda kecil, dunia akan tampak sempit dan tindakan anda pun jadi kerdil. Namun bila anda memandang diri anda besar, dunia terlihat luas, anda pun melakukan hal-hal penting dan berharga.

Tindakan anda adalah cermin bagaimana anda melihat dunia. Sementara dunia anda tak lebih luas dari pikiran anda tentang diri anda sendiri. Itulah mengapa kita di ajarkan untuk berprasangka positif pada diri sendiri, agar kita bisa melihat dunia lebih indah, dan bertindak selaras dengan kebaikan-kebaikan yang ada dalam pikiran kita. Padahal dunia tak butuh penilaian apa-apa dari kita. Ia hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat. Ia menggemakan apa yang ingin kita dengar. Bila kita takut menghadapi dunia, sesungguhnya kita takut menghadapi diri kita sendiri.

Maka, bukan soal apakah kita berprasangka positif atau negatif terhadap diri sendiri. Melampaui di atas itu, kita perlu jujur melihat diri sendiri apa adanya. Dan, dunia pun menampakkan realita yang selama ini tersembunyi di balik penilaian-penilaian kita

Sedikit Demi Sedikit Lama Lama Menjadi Bukit



Pepatah ini sederhana saja, bisa kita maknai dengan jika kita mengumpulkan se sen demi se sen lama kelamaan akan menjadi pundi, namun pepatah ini bukan saja berbicara tentang hidup hemat, atau ketekunan kita untuk menabung.
Pepatah ini meyiratkan kita tentang sesuatu yang lebih berharga dari sekedar sekantung keping uang, yaitu bila kita mampu mengumpulkan kebaikan dalam setiap tindakan-tindakan kecil kita, maka kita akan dapati kebesaran dalam jiwa kita.

Bagaimana tindakan-tindakankecil itu mencerminkan kebesaran jiwa sang pemiliknya ? yaitu bila disertai dengan secercah kasih sayang di dalamnya. Ucapan terima kasih, sesungging senyum, sapaan ramah, atau pelukan bersahabat, adalah tindakan yang mungkin sepela saja. Namun dalam liputan kasih sayang, ia jauh lebih tinggi dari pada bukit tabungan kita.

Gusti Allah Ora Sare

Sore telah larut saat saya meninggalkan kantor. Telah lewat pukul 5 sore. Pekerjaan yang menumpuk, membuat saya harus pulang sesore larut ini. Ah, hari yang menjemukan saat itu. Terlebih, setelah beberapa saat berjalan, warna langit tampak memerah. Rintik hujan mulai turun. Lengkap sudah, badan yang lelah ditambah dengan "acara" kehujanan.

Setengah berlari saya mencari tempat berlindung. Untunglah, penjual nasi goreng yang mangkal di pojok jalan, mempunyai tenda sederhana. Lumayan, pikir saya. Segera saya berteduh, menjumpai bapak penjual yang sendirian ditemani rokok dan lampu petromak yang masih menyala. Dia menyilahkan saya duduk. "Disini saja dik, daripada kehujanan...," begitu katanya saat saya meminta ijin berteduh.

Benar saja, hujan mulai deras, dan kami makin terlihat dalam kesunyian yang pekat. Karena merasa tak nyaman atas kebaikan bapak penjual dan tendanya, saya berkata, "tolong bikin mie goreng pak, di makan disini saja." Sang Bapak tersenyum, dan mulai menyiapkan tungku apinya. Dia tampak sibuk.
Bumbu dan penggorengan pun telah siap untuk di racik. Tampaklah pertunjukkan sebuah pengalaman yang tak dapat diraih dalam waktu sebentar.

Tangannya cekatan sekali meraih botol kecap dan segenap bumbu. Segera saja, mie goreng yang mengepul telah terhidang. Keadaan yang semula canggung mulai hilang. Basa-basi saya bertanya, "Wah hujannya tambah deras nih, orang-orang makin jarang yang keluar ya Pak?" Bapak itu menoleh ke arah saya, dan berkata, "Iya dik, jadi sepi nih dagangan saya.." katanya sambil menghisap rokok dalam-dalam.

"Kalau hujan begini, jadi sedikit yang beli ya Pak?" kata saya, "Wah, rezekinya jadi berkurang dong ya?". Pertanyaan yang bodoh. Tentu saja tak banyak yang membeli kalau hujan begini. Tentu, pertanyaan itu hanya akan membuat Bapak itu tambah sedih. Namun, agaknya saya keliru...

"Gusti Allah, ora sare Nak, begitu katanya. "Rezeki saya ada di mana-mana. Saya malah senang kalau hujan begini. Istri sama anak saya di kampung pasti dapat air buat sawah. Yah, walaupun nggak lebar, tapi lumayan lah tanahnya." Bapak itu melanjutkan, "Anak saya yang di sini pasti bisa ngojek payung kalau besok masih hujan.....".

Degh. Dduh, hati saya tergetar. Bapak itu benar, "Gusti Allah ora sare". Allah Memang Maha Kuasa, yang tak pernah istirahat buat hamba-hamba-Nya. Saya rupanya telah keliru memaknai hidup. Filsafat hidup yang saya punya, tampak tak ada artinya di depan perkataan sederhana itu. Maknanya terlampau dalam, membuat saya banyak berpikir dan menyadari kekerdilan saya di hadapan Tuhan.

Saya selalu berpikiran, bahwa hujan adalah bencana, adalah petaka bagi banyak hal. Saya selalu berpendapat, bahwa rezeki itu selalu berupa materi, dan hal nyata yang bisa digenggam dan dirasakan. Dan saya juga berpendapat, bahwa saat ada ujian yang menimpa, maka itu artinya saya cuma harus bersabar. Namun saya keliru. Hujan, memang bisa menjadi bencana, namun rintiknya bisa menjadi anugerah bagi setiap petani. Derasnya juga adalah berkah bagi sawah-sawah yang perlu diairi. Derai hujan mungkin bisa menjadi petaka, namun derai itu pula yang menjadi harapan bagi sebagian orang yang mengojek payung, atau mendorong mobil yang mogok.

Hmm...saya makin bergegas untuk menyelesaikan mie goreng itu. Beribu pikiran tampak seperti lintasan-lintasan cahaya yang bergerak dibenak saya. "Ya Allah, Engkau Memang Tak Pernah Beristirahat" Untunglah,hujan telah reda, dan sayapun telah selesai makan. Dalam perjalanan pulang, hanya kata itu yang teringat, Gusti Allah Ora Sare..... Gusti Allah Ora Sare.....

Begitulah, saya sering takjub pada hal-hal kecil yang ada di depan saya. Allah memang selalu punya banyak rahasia, dan mengingatkan kita dengan cara yang tak terduga. Selalu saja, Dia memberikan Cinta kepada saya lewat hal-hal yang sederhana. Dan hal-hal itu, kerap membuat saya menjadi semakin banyak belajar.

Dulu, saya berharap, bisa melewati tahun ini dengan hal-hal besar, dengan sesuatu yang istimewa. Saya sering berharap, saat saya bertambah usia, harus ada hal besar yang saya lampaui. Seperti tahun sebelumnya, saya ingin ada hal yang menakjubkan saya lakukan.

Namun, rupanya tahun ini Allah punya rencana lain buat saya. Dalam setiap doa saya, sering terucap agar saya selalu dapat belajar dan memaknai hikmah kehidupan. Dan kali ini Allah pun tetap memberikan saya yang terbaik. Saya tetap belajar, dan terus belajar, walaupun bukan dengan hal-hal besar dan istimewa.


Aku berdoa agar diberikan kekuatan...Namun, Allah memberikanku cobaan agar aku kuat menghadapinya.

Aku berdoa agar diberikan kebijaksanaan...Namun, Allah memberikanku masalah agar aku mampu memecahkannya.

Aku berdoa agar diberikan kecerdasan...Namun, Allah memberikanku otak dan pikiran agar aku dapat belajar dari-Nya.

Aku berdoa agar diberikan keberanian...Namun, Allah memberikanku persoalan agar aku mampu menghadapinya.

Aku berdoa agar diberikan cinta dan kasih sayang..... Namun, Allah memberikanku orang-orang yang luka hatinya agar aku dapat berbagi dengannya.

Aku berdoa agar diberikan kebahagiaan...Namun, Allah memberikanku pintu kesempatan agar aku dapat memanfaatkannya.




Garam dan Telaga




Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.

“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.
Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”.
“Segar.”, sahut tamunya.
“Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi.
“Tidak”, jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.

“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”, untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.

Bersyukurlah Pada Apa Saja




Anda wajib mensyukuri apa pun yang menimpa anda. Ini bukan masalah keberuntungan. Bersyukur menuntun anda untuk senantiasa menyingkirkan sisi negatif dari hidup. Orang lain mungkin mengatakan bahwa anda tidak realistis. Namun, sebenarnya sikap anda jauh lebih realistis, yaitu membebaskan diri anda dari kecemasan atas kesalahan.

Bersyukur mendorong anda untuk bergerak maju dengan penuh antusias. Tak ada yang meringankan hidup anda selain sikapbersyukur. Semakin banyak anda bersyukur semakin banyak anda menerima.Semakin banyak anda mengingkari, semakin berat beban yang anda jejalkan pada diri anda. Kebanyakan orang lebih terpaku pada kegagalan lalu mengingkarinya. Sedikit sekali yang melihat pada keberhasilan lalu mensyukurinya. Karena,
anda takkan pernah berhasil dengan menggerutu dan berkeluh kesah.Anda berhasil karena berusaha. Sedangkan usaha anda lakukan karena anda melihat sisi positif. Hanya dengan bersyukurlah sisi positif itu tampak di pandangan anda.

Senin, 09 Januari 2012

Belajar Dari Kesalahan


Orang bilang, manusia tempatnya salah dan lupa. Pernyataan ini sudah seringkali kita dengar. Siapapun di antara kita, betapapun merasa punya ilmu dan penguasaan wawasan yang cukup, tetap saja tidak bisa lepas dari kesalahan. Memang, ketika orang melakukan kesalahan itu wajar, hanya saja, bisakah kita senantiasa bisa belajar dari kesalahan itu, mengambil hikmah dari setiap langkah-langkah yang keliru. Inilah proses yang semestinya dilalui orang yang berwatak pembelajar untuk menuju pribadi mulia. Kesalahan, memang bukan untuk ditakutkan apalagi direncanakan, kesalahan adalah sebuah pembelajaran berharga dalam kehidupan kita.

Dalam perjalanan keseharian ini, kita mungkin kerap melihat kesalahan orang lain dibanding dengan bercermin pada diri kita sendiri. Kuman di seberang lautan tampak sementara gajak di pelupuk mata tak tampak. Begitulah sifat yang barangkali masih kita miliki. Kita, begitu jelas melihat kesalahan orang lain. Dan, godaan terbesar kita adalah menyebarkan kesalahan itu kepada orang lainnya.

Inilah godaan yang sering membuat kita lalai. Kita begitu asik membicarakan kesalahan orang lain, borok-borok orang lain. Padahal, kita yakin sepenuhnya membuka aib itu sama halnya memakan bangkai saudara sendiri. Ketika kita menyadarinya dengan kadar iman yang ada, tentu tak mau melakukannya. Namun, kadang dominasi bisikan setan lebih besar dari kadar keimanan kita. 

Hari ini, saya tidak bermaksud untuk menyalahkan siapa-siapa. Hanya ingin mengajak untuk melongok diri kita, dan tentunya diri saya pribadi tentang fenomena setiap kesalahan yang diperbuat oleh setiap manusia di sekitar kita. Entah kawan, saudara maupun tetangga-tetangga kita. Kita mungkin seringkali mendengar kabar keburukan orang lain. Dari sini, lantas kita sesekali ikut-ikutan menyebarkannya, padahal kabar itu belum tentu kebenarannya. Bisa jadi hanya fitnah belaka.

Jujur, saya agak berat untuk membicarakan persoalan ini. Karena, sepanjang pengingatan. Ternyata, saya juga masih saja sering spontan membicarakan keburukan orang. Kadang, malah melontarkan secara jelas siapa orangnya, sosok yang melakukan kesalahan itu. Hanya, kemudian yang terbesit dalam hati, semoga saja, setelah saya menuliskan hal ini, akan menjadi pengingat agar saya lebih berhati-hati ketika berbicara. Dan, pagi ini ijinkan saya melanjutkannya. Untuk siapapun yang pernah membaca goresan sederhana ini, ketika saya kelak kedapatan dalam mengumbar keburukan orang. Jangan segan-segan untuk mengingatkan saya. Dengan senang hati saya menerima usaha saling ingat mengingatkan dalam kebaikan ini.

Selanjutnya, mari kita belajar bersama dari sebuah nukilan kisah menarik yang diungkapkan oleh Ust Lili Nur Aulia dalam bukunya “Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan Kami”, tentang bagaimana kita akan mengutamakan untuk bercermin dari kesalahan yang dilakukan saudara kita. Seperti yang ditanyakan kepada Hasan Al Bashri, “Siapa yang mendidik dirimu hingga menjadi baik?” Hasan Al Bashri mengatakan, “ Diriku sendiri.” “Bagaimana bisa begitu?” tanya orang itu kepadanya. Ia mengatakan, “Jika aku melihat kebaikan yang dilakukan orang lain, aku akan menirunya. Jika aku melihat keburukannya, aku berusaha menjauhi perilakunya itu”.
Begitulah, cara terbaik yang mungkin kita bisa lakukan.

Sungguh indah bukan. Kita justru bisa memetik hikmah dari kesalahan orang lain untuk menjadi pembelajaran bagi diri kita. Bagi perbaikan kualitas kemanusiaan, keimanan dan kemusliman kita. Nampaknya, persoalan ini begitu simpel, begitu remeh temeh. Tapi, rasanya tak mudah bagi kita untuk menerapkannya dalam kehidupan ini. Akhirnya, semoga kita bisa belajar dari setiap kesalahan yang ada. Bukan justru mengumbarnya sehingga melupakan momentum bahwa sebenarnya kesalahan itu justru membuat pengingat diri kita untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Sekarang, tanyakan sendiri dalam setiap hati kita, coba jujur pada nurani kita, lebih banyak mengumbar atau bercermin dari kesalahan yang ada.

ditulis oleh Yon's Revolta